RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2011

Ya Sohib


Ya sohib, jalan ini memang bukanlah jalan yang beralaskan permadani

dengan bertabur bunga-bunga yang indah warna-warni

Ini jalan, jalan terjal, berliku, penuh duri,

Mungkin saja jikalau tak hati-hati,

Sedikit saja dikau menginjakkan kaki,

Engkau akan segera pergi berlari,

Tuk tinggalkan jalan ini

 

Ya sohib di jalan ini kita berjuang bersama,

Ada suka, maupun duka, walaupun sebenarnya lebih banyak dukanya

Kita pegang jari-jemari kita kuat-kuat sembari berjalan sedepa demi sedepa

Kadang kita terjatuh, tergelincir, kembali berdiri, lalu tertusuk lagi oleh durinya

 

Kadang, kukatakan padamu ya Sohib, tidakkah kita ini sudah gila

Karena memilih jalan yang hanya membuat peluh dan perih di dalam dada

Kenapa kita tidak sudahi saja setiap depa

Atau setidaknya beristirahat barang sejenak saja

 

Tapi, kita terus menapakkan langkah

Karena di ujung jalan ini ada kampung yang indah

Yang akan menjadi tempat peristirahatan kita untuk melepas lelah

 

Namun, kutanyakan kembali lagi padamu, ya Sohib, akankah kita bisa sampai di kampung itu bersama dengan yang lain

Kutakut, saat kita menemukan persimpangan, kita akan berbelok menuju kampung yang lain

 

Atau mungkin saat tiba di kampung, kita malah diusir dari pintu gerbang

Atau mungkin kita terjatuh saat tiba di jalan yang berlubang, kakipun patah dan hanya bisa mengerang

Atau  mungkin malah masuk ke dalam jurang

Na’udzubillahi min zalik

Sesungguhnya pada Allah lah semua itu dikembalikan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 11, 2011 in Islam

 

Memandang dengan Hati


“Pandangan mata itu menipu

Pandangan hati itu yang hakiki”

Demikianlah potongan lirik yang dilantunkan oleh sebuah grup nasyid yang pernah saya dengar. Dan saya sangat sepakat dengan hal itu. Dalam menilai seseorang hendaklah jangan dilihat dari tampilan luar, tetapi utamakanlah untuk melihat tampilan hatinya. Misal seorang yang rajin beribadah di mata kita, bertutur kata lemah lembut, santun perilakunya, dan sifat-sifat baik lainnya  yang kita lihat secara kasat mata  belum tentu itulah makna yang sesungguhnya dari apa yang dikerjakannya. Demikian juga sebaliknya. Semua itu kembali lagi kepada hakikat hati yang berada di dalam jiwa manusia. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa si A itu jelek kelakuannya, si X itu baik sekali orangnya hanya dengan apa yang selama kita lihat dari dirinya. Ingat. Pandangan mata manusia itu sering kali menipu.

Nah, sekarang, lantas bagaimana kita bisa memandang dengan hati, bukankah pandangan hati itu yang hakiki? Pandangan hati pada manusia hanya ada pada orang-orang yang bersih keimanannya kepada Allah SWT. Akan tetapi, sesungguhnya, pandangan yang paling jernih untuk melihat kejernihan hati hanya dimiliki oleh Allah SWT. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak bersedih hati ketika tak ada seorang pun yang menyanjung kita, atau ketika kita merasa diri kita ini tidak punya kelebihan apa-apa, tidak popular, dan sebagainya. Tapi, ingatlah pandangan yang hakiki itu ada pada Allah SWT. Jadi, yang kita perlu lakukan hanyalah bagaimana cara kita mencuri perhatian Allah, bagaimana cara kita bisa menggetarkan Arsy Allah seperti yang pernah dilakukan oleh Thalhah bin Ubaidillah, dan sebagainya karena itulah penilaian yang hakiki, yakni penilaian Allah SWT. So, ketika kita berbuat sesuatu yang baik, cukup hanya Allah saja yang tahu, cukup hanya Allah sajalah yang melihat, cukup Allah sajalah yang menilai,  karena itu yang hakiki.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2011 in Islam