RSS

Cerita Koas-OS-Part 1

23 Feb

Kali ini, kita cerita tentang koas di bagian bedah mulut (BM/OS/oral surgery). Kata sebagian besar koas, departemen bedah mulut adalah departemen syurga. Ah, masak iya? Namanya saja sudah mengerikan begitu, masak iya bisa jadi syurga?

Saya masuk departemen ini dari tanggal 2 Desember dan seharusnya keluar pada tanggal 15 Februari lalu, namun siklus kami diberi perpanjangan 2 minggu karena departemen berikutnya belum menerima kedatangan siklus baru, lantaran situasi koas di sana padat merayap.

Nah, jadilah mulai tanggal 2 Desember, kami, satu siklus, masuk ke departemen ini. Sebelum masuk, senior-senior koas memberi wejangan -mudah-mudahan ga sesat- untuk siap-siap ‘alat pembunuh’ rasa bosan untuk 1 bulan, lantaran 1 bulan pertama di departemen, kami belum boleh kerja, namun masih menerima pembekalan aplikasi oleh para dokter yang baik hati ^_^.

Pada minggu pertama, seperti biasa, kami mengikuti pre-test. Masing-masing dari kami disebar di beberapa titik dan sudut ruangan bedah mulut untuk mengerjakan soal pre-test, tujuannya ya supaya ga ada yang kerja sama. You know what? Ada satu titik di ruangan bedah mulut yang katanya ada ‘sesuatu’ nya. Berdasarkan gosip yang beredar, ‘sesuatu’ itu ada di ruangan OP (operasi) dokter. Kalau dilihat dari segi fisik, memang terkesan menyeramkan sih ruangannya, gelap dan dingin.. hehe (ya iyalah, karena lampunya hanya dihidupkan pas OP dan pakai AC). Di luar dari itu semua, menurutku, departemen ini sangat terjaga kebersihan dan sirkulasi udaranya. Tentu, hal ini mutlak harus dipenuhi karena banyak tindakan bedah minor yang dilakukan di sini, bila tidak bersih, tentunya akan terjadi banyak infeksi pasca bedah.

Kembali ke pembahasan ruang OP tadi, seringkali ketika pre-test, mahasiswa koas tolak-tolak-an kalau disuruh masuk ke ruangan, tapi untungnya ini hanya terjadi di awal saja, toh akhirnya lama-lama juga terbiasa masuk ke ruangan itu.. katanya.. dulu ada senior yang datang pagi-pagi ke klinik, tiba-tiba dia melihat seorang nenek ada di ruangan itu, padahal belum ada dokter dan perawat yang datang. Ia pikir itu pasien dokter. Tepat ketika dia keluar klinik ia berjumpa dengan dokter yang baru saja mendarat di klinik. Si koas pun mengabarkan kepada si dokter.

“Dok, itu pasien dokter udah datang, dok kayaknya!”

“Oh ya!?” Si dokter kemudian masuk ke ruangannya.

Beberapa saat kemudian si dokter keluar dan bertanya kepada si koas.

“Mana dek, pasiennya!?”

“Itu dok, di ruangan OP.”

“Ga ada.” kata si dokter

Suasana pun hening seketika.

Si dokter pun berseloroh, “Udah biasa…”

Dan saya ga bisa membayangkan gimana ekpresi dan perasaan si koas saat itu. Ada banyak versi tentang cerita ini, tapi begitulah kurang lebih cerita yang saya dengar, walaupun saya tidak begitu yakin dengan keakuratan cerita ini. Tetapi, sudahlah, ada atau tidaknya si nenek, pun tak akan membantu saya dalam pemenuhan kasus di departemen ini, wkwkwk.

Ngomong-ngomong tentang kasus (minreq/ minimal requirement), kasus di departemen ini buanyak banget. Minreq di departemen ini terdiri atas 28 kali pencabutan, 5 asisteren OP dokter, 4 asisteren OP mahasiswa, 3 OP (alveolektomi, pengambilan fraktur terbuka, dan odontektomi). Untunglah minreq yang banyak ini tidak disertai dengan tekanan atmosfir yang membuat sulit bernapas dan menyesakkan dada karena dokter di sini pada easy going . Ya, mungkin di situ letak ‘surga’ nya… wkwkwk.

Walaupun begitu, mereka tetap tegas dengan segala bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh koas dengan menggunakan sistem minus dan poin. Ada poin di setiap kasus yang dikerjakan, misalnya untuk pencabutan gigi geraham belakang diberikan 10 poin, jika sukses mencabutnya. Jika gagal dalam pencabutan, diberi minus 5 poin. Hal kecil namun berakibat fatal adalah apabila koas melakukan kesalahan prosedur, wah.. bisa langsung minus 50 sampai 100. Poin pencabutan yang sudah dikumpulkan dengan susah payah satu demi satu, bisa lenyap seketika, haha bisa nangis darah tuh… Akibatnya… si koas harus lebih banyak mencabut, lebih giat lagi mencari pasien…

Banyak petuah yang diberikan oleh cikgu kami di sini, salah satunya adalah jangan takabur. Kata cikgu kami, sedikit saja ada perasaan takabur di hati, dapat dipastikan si koas bakal mengalami kesulitan dalam mencabut gigi, bahkan boleh jadi gigi yang dicabut ga bakalan keluar. Hal ini sering terjadi dan telah dibuktikan oleh para koas yang pernah mengalaminya. Suatu ketika, datanglah pasien dengan kondisi gigi yang udah mobiliti alias goyang. Secara logika, gigi yang sudah goyang, biasanya sangat mudah dicabut. Tanpa sadar, si koas bergumam dalam hatinya ‘ah gampang ini’. And you know? Apa yang terjadi…? lebih dari 1 jam, gigi itu tak kunjung tercabut juga, bahkan ada sampai kejadian giginya patah, dan harus dilakukan operasi kecil untuk mengambil patahannya, unik kan? Menurut saya, mungkin inilah cara kerja Allah dalam mengingatkan hamba-Nya, bahkan lewat makhluk kecil nan imut, gigi.

“Makanya, kalian berdoa dulu sebelum melakukan tindakan, dan jangan takabur!” begitulah pesan dokter-dokter di sini. Wah… so amaze… ^_^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2014 in Cerita kecil, Perkuliahan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: