RSS

Arsip Bulanan: Juni 2011

Sakit Sewaktu Sujud


PEMICU 4 BLOK 14-MAKSILOFASIAL-I

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.I LATAR BELAKANG

Secara harfiah, sinusitis dikenal sebagai peradangan mukosa sinus paranasal yang dapat berupa sinusitis maksilaris, sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid.1,2 Bila yang terkena lebih dari satu sinus disebut multisinusitis, dan bila semua sinus terkena disebut pansinusitis.1 Dari keempat sinus tersebut, sinus maksilaris merupakan sinus yang sangat terkait dengan bidang kedokteran gigi sebab sinus ini berhubungan dengan berbagai jaringan lain di dalam tubuh, seperti cavum orbita, duktus nasolakrimalis, termasuk di dalamnya gigi yang mana dasar sinus ini terletak dekat dengan akar gigi premolar (P1, P2), molar (M1, M2), dan kadang-kadang juga terletak dekat akar gigi kaninus (C) dan molar 3 (M3).

Dalam laporan diskusi ini dibahas tentang sebuah kasus yang berhubungan dengan penyakit di rongga mulut yang berkaitan dengan sinus maksilaris. Pembahasan masalah pada laporan diskusi ini mencakup analisis tentang diagnosa penyakit yang diderita pasien, etiologi dan patofisiologinya, jenis pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan, penatalaksanaannya, tindakan yang harus dilakukan oleh seorang dokter gigi, serta komplikasi yang mungkin dapat terjadi akibat dari penyakit tersebut.

Dengan melakukan diskusi kelompok mengenai kasus tersebut diharapkan para mahasiswa kedokteran gigi dapat berlatih untuk menganalisis suatu kasus penyakit di rongga mulut sejak dini terutama yang berkaitan dengan penyakit-penyakit yang sering meibatkan sinus maksilaris sehingga dapat memudahkan mereka pada saat pengaplikasian ilmu tersebut di klinik nantinya.

Adapun kasus yang dibahas dalam laporan diskusi ini dapat dilihat pada bagian deskripsi topik.

I.II DESKRIPSI TOPIK

Seorang perempuan, Ny. S 30 tahun datang dengan keluhan sakit gigi pada daerah belakang kanan dan disertai hidung tersumbat dan berbau. Pada pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 16 nekrosis pulpa, oral hygiene sedang.

More info:

Hasil pemeriksaan radiologi diperoleh perselubungan pada sinus maksilaris kanan. Hasil pemeriksaan THT: pada rhinoskopi anterior terdapat secret kental dari meatus nasi media, pada rhinoskopi posterior terdapat post nasal drip.

Produk:

  1. Apa kemungkinan diagnose kasus di atas?
  2. Bagaimana etiologi dan patofisiologi penyakit di atas?
  3. Pemerikaan fisik dan penunjang apa yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa kasus di atas, jelaskan alasannya dan apa kemungkinan hasilnya?
  4. Bagaimana penatalaksanaan selanjutnya dari penyakit tersebut?
  5. Apa yang harus dilakukan sebagai seorang dokter gigi pada kasus ini?
  6. Kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit ini?

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

II.I TERMINOLOGI3,4

Pada wacana kasus yang terdapat pada bagian deskripsi topik, terdapat beberapa istilah yang kedokteran yang mungkin masih belum jelas dan perlu diketahui artinya agar kita dapat memahami kasus tersebut seutuhnya. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Intra oral                 :     daerah di sekitar bagian dalam oral yang secara langsung dipengaruhi oleh kesehatan oral, seperti gejala periodontitis, muccobucal fold, dan sebagainya
  2. Nekrosis pulpa        :    kematian pulpa yang merupakan proses lanjutan dari inflamasi pulpa yang akut/kronis atau terhentinya sirkulasi darah secara tiba-tiba akibat trauma
  3. Oral hygiene           :    perawatan mulut dan gigi yang tepat
  4. Sinus maksilaris      :    satu dari sinus paranasal berpasangan di badan maksila pada kedua sisi, dan bermuara ke dalam mediates media yang terletak di sebelah ipsilateral rongga hidung
  5. Rhinoskopi             :    pemeriksaan lubang hidung dengan speculum, baik melalui nares anterior (anterior r.) atau nasofaring (posterior r.)
  6. Sekret                    :    produk sekresi
  7. Meatus nasi media  :    satu dari empat bagian rongga hidung  (komunis, inferior, media, dan superior) pada masing-masing sisi septum
  8. Post nasal drip        :    drainase mukosa yang berlebihan atau secret mukopurulen dari bagian belakang hidung ke dalam faring

 

II.II PERMASALAHAN

  1. Perempuan, 30 tahun
  2. Keluhan:
    1. Sakit gigi pada daerah belakang kanan
    2. Hidung tersumbat dan berbau
    3. Hasil pemeriksaan intra oral:
      1. 16 nekrosis pulpa
      2. Oral hygiene sedang
  1. Hasil pemeriksaan radiologi:
    1. Perselubungan pada sinus maksilaris kanan
  2. Hasil pemeriksaan THT:
    1. Pada rhinoskopi anterior: secret kental dari meatus nasi media
    2. Pada rhinoskopi posterior: adanya post nasal drip

II.III SOLUSI

II. III.I Diagnosa Kasus5

Diagnosa pada kasus ditegakkan berdasarkan prosedur penegakan diagnosa, yakni sebagai berikut:

  1. Melakukan anamnesa dan mencatat riwayat pasien

Dengan melakukan anamnesa, seorang dokter dapat memperoleh data-data pasien, yakni berupa data rutin/identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit yang diderita, riwayat medik, dan kebiasaan pasien. Pada kasus hanya disebutkan keluhan pasien yakni berupa sakit gigi pada daerah belakang kanan serta hidung tersumbat dan berbau.

  1. Melakukan pemeriksaan fisik dan pendukung (penunjang) terhadap pasien.

Pada kasus pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasien adalah:

  1. Pemeriksaan fisik, yakni meliputi pemeriksaan ekstra oral dan intra oral yang mana dari pada kasus hanya disebutkan kondisi intra oral pasien, yakni gigi 16 nekrosis pulpa dan oral hiegine yang sedang.
  2. Pemeriksaan penunjang. Pembahan mengenai pemeriksaan penunjang akan dibahas pada pembahasan subbab berikutnya.
  3. Menganalisa dan merumuskan masalah-masalah pasien kemudian diteruskan dengan proses pengkajiannya dan selanjutnya membuat kesimpulan sehingga didapat hasil akhir yang disebut dengan diagnose. Pada kasus, diagnose untuk penyakit yang diderita oleh pasien adalah Sinusitis Dentogen. Penegakan diagnose ini didasarkan pada data-data yang diperoleh setelah melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada kasus, data yang disebutkan yang dapat memperkuat tegaknya diagnose ini adalah:
    1. Pasien mengeluhkan sakit gigi pada daerah belakang kanan à sebab apeks gigi-gigi posterior (P1, P2, M1, M2) rahang atas berdekatan dengan basis sinus maksilaris
    2. Hidung tersumbat dan berbau sertaà merupakan ciri sinusitis yang kronis
    3. Pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 16 nekrosis pulpa à adanya masalah pada gigi tersebut semakin memperkuat kemungkinan adanya penyebaran infeksi dari gigi ke rongga sinus maksilaris.

Setelah diagnose ini ditegakkan, barulah seorang dokter dapat menentukan rencana pengelolaan, perawatan, pengobatan, serta edukasi atau tindakan yang selanjutkan akan dilakukan pada pasien, termasuk penilaian resiko medis pasien.

 

II.III.II Etiologi dan Patofisiologi1,6

II.III.II.I Etiologi

Pada kasus tersebut, etiologi terjadinya peradangan pada rongga sinus maksilaris  pasien disebabkan oleh  adalanya penjalaran infeksi dari gigi 16 yang mengalami nekrosis pulpa. Biasanya infeksi ini lebih sering terjadi  pada kasus-kasus akar gigi  yang hanya terpisah oleh lapisan tulang yang tipis (dekat) jaraknya dengan basis sinus maksilaris daripada yang terpisah oleh lapisan tulang yang tebal.

II.III.II.II Patofisiologi

Proses peradangan pada sinus maksilaris pasien dapat terjadi melalui tahapan berikut:

  1. Melalui infeksi gigi yang kronis

Infeksi gigi yang kronis dapat menimbulkan jaringan granulasi di dalam mukos sinus maksilaris, hal ini akan menghambat gerakan silia ke  arah ostium yang mengakibatkan drainase sinus terhalang. Adanya gangguan drainase sinus tersebut mengakibatkan sinus mudah mengalami infeksi.

  1. Melalui penyebaran bakteri

Bakteri-bakteri yang bersifat anaerob dari gigi yang terinfeksi dapat menyebar secara langsung, hematogen, atau limfogen dari granuloma apikal atau kantung periodontal gigi ke sinus maksilaris.

II.III.III Pemeriksaan Fisik dan Penunjang1,6

II.III.III.I Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien meliputi:

  1. Pemeriksaan ekstra oral
  • Alasan: untuk melihat apakah adanya odem, perubahan warna  di sekitar pipi dan dekat mata (dengan cara palpasi)
  • Kemungkinan hasil: jika sinusitis, saat dipalpasi pada bagian sekitar pipi dan bawah mata akan terasa sakit
  1. Intra oral
  • Alasan: untuk melihat kondisi gigi
  • Kemungkinan hasil: jika sinusitis, gigi yang apeksnya dekat dengan basis sinus maksilaris (P1, P2, M1) akan terlihat adanya masalah (nekrosis)
  1. Rhinoskopi (dilakukan oleh dokter spesialis THT)
  • Alasan: untuk menginspeksi mukosa hidung, mendeteksi apakah adanya inflamasi, deformitas, atau asimetri pada septum rongga hidung
  • Pemeriksaan rhinoskopi terdiri atas:
  • Rhinoskopi anterior

Pada pemeriksaan ini, kemungkinan hasil yang akan diperoleh yakni jika terapat peradangan pada sinus (sinusitis), maka akan tampak mukosa konka nasal mengalami hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, tampak mukopus atau nanah di meatus medius.

  • Rhinoskopi posterior

Pada pemeriksaan ini, kemungkinan hasil yang akan diperoleh yakni jika terdapat peradangan pada sinus (sinusitis), maka akan ditemukan post nasal drip (mukopus di nasoparing).

 

 

II.III.III.I Pemeriksaan Penunjang1,6

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien yakni:

  1. Radiologi
  • Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral.
  • Alasan: Untuk melihat apakah ada gambaran patologis (kelainan) pada sinus maksilaris
  • Kemungkinan hasil:  Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit

Pemeriksaan penunjang yang lain seperti transluminasi, CT scan, dan sebagainya dapat dilakukan juga untuk menegakkan diagnosa, namun hal ini harus dilakukan secara rasional dan disesuaikan dengan keadaan (kondisi) pasien.

 

II.III.IV Penatalaksanaan1,6

Penatalaksaan yang dilakukan pada pasien, didasarkan pada tiga hal, yakni:

  1. Edukasi:

Yakni dengan menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang sedang dideritanya (sinusitis dentogen)

  1. Instruksi:

Yakni dengan menminta pasien untuk menjaga kebersihan rongga mulutnya (oral hygiene), serta meminta pasien untuk meminum antibiotik dan obat lain yang diberikan secara teratur.

  1. Terapi:

Terapi (pengobatan) pada pasien dengan kasus di dalam pemicu dapat dilakukan dengan cara:

  1. Konservatif:
  • Atasi masalah gigi
  • Memberikan premedikasi, yakni berupa antibiotik dan analgesik
  • Nasal dekongestan
  • Anti inflamasi
  1. Jika konservatif gagal:
  • Irigasi sinus maksila
  • Antrostomi (sinus maksilaris), jika meatus media tidak fungsional
  • Operasi FESS ( Functional endoscopic sinus surgery)

II.III.V Tindakan yang Harus Dilakukan Dokter Gigi6

Dalam perawatan pasien perlu diingat prinsip :

  1. Edukasi,

Dokter gigi harus mengedukasikan pasien bahwa penyakit yang dideritanya merupakan sinusitis dentogen yang terjadi akibat penyebaran infeksi pada gigi 16 ke dalam rongga sinus dan juga diperburuk dengan kondisi OH pasien yang mana disebutkan dalam kasus kondisi OH pasien sedang.

  1. Instruksi

Instruksi yang dapat diberikan kepada pasien yaitu agar selalu menjaga kondisi OH pasien agar tidak memperparah kondisinya dan meminum obat yang diberikan secara teratur.

  1. 3.   Terapi

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa sinusitis dentogen yang diderita oleh pasien pada kasus tersebut disebabkan oleh adanya penyebaran infeksi dari gigi 16, maka tindakan yang perlu kita lakukan adalah menyingkirkan faktor penyebab dan melakukan usaha pencegahan agar sinusitis tersebut tidak terulang lagi dengan cara menutup oroanthral fistel yang terbutuk antara rongga mulut dan sinus tersebut. Tindakan pertama yang harus dilakukan oleh dokter gigi yaitu dengan mengatasi gigi yang bermasalah, yaitu gigi 16, irigasi dengan Na hipoklorit 5%, kemudian beri antibiotika seperti amoksisilin golongan penisilin untuk pemakaian 10-14 hari dan ingatkan pasien agar memakan antibiotika secara teratur.

Perlu diingat bahwa perawatan saluran akar merupakan kontra indikasi pada kasus sinusitis dentogen. Oleh karena itu, tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi adalah melakukan ekso (pencabutan) pada gigi 16 yang telah mengalami nekrose pulpa tersebut. Sedangkan untuk perawatan rongga sinus pada pasien, dokter gigi harus merujuknya (bekerja sama) dengan dokter spesialis THT.

 

II.III.VI Kemungkinan Komplikasi1,6

Kemungkinan komplikasi yang dapat timbul akibat penyakit yang diderita pasien, yakni:

1.Osteomielitis

2.Abses orbital

3.Otitis media

4.Meningitis

5.Bronkitis (sinobronkitis)

6.Abses subperiostal

7.Dll.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

III.I SIMPULAN

  • Sinusitis dentogen merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat ditemui di kedokteran gigi
  • Penegakan diagnose sinusitis dentogen dilakukan melalui prosedur penegakan diagnose yang terdiri atas anamnesa, melakukan pemeriksaan fisik, serta penunjang.
  • Sinusitis dentogen dapat terjadi melalui penyebaran infeksi dari gigi-gigi yang apeksnya berdekatan dengan basis rongga sinus maksilaris, yakni P1, P2, M1, dan M2
  • Pemerikaan fisik  untuk penegakan diagnose sinusitis dentogen yakni berupa pemeriksaan intra oral, ekstra oral, serta rhinoskopi. Sedangkan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan yakni berupa radiologi dengan posisi waters, PA dan lateral.
  • Penatalaksanaan kasus sinusitis dentogen dilakukan secara tim antara dokter gigi dan dokter spesialis THT
  • Dokter gigi dapat melakukan tindakan pencabutan pada kasus sinusitis dentogen, sedangkan perawatan saluran akar merupakan kontra indikasi pada kasus ini
  • Kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari sinusitis dentogen yakni berupa osteomielitis, abses orbital, otitis media, meningitis, bronkitis (sinobronkitis), abses subperiostal, dan penyakit lainnya

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007: 150-3
  2. Ghorayeb B. Sinusitis. Dalam Otolaryngology Houston. Diakses dari http://www.ghorayeb.com/AnatomiSinuses.html
  3. W.B. Saunders Company. Kamus saku kedokteran Dorland. Edisi 25. Alih bahasa. dr. Poppy Kumala, dr. Sugiarto Komala, dr. Alexander H. Santoso, dr. Johannes Rubijanto Sulaiman, dr. Yuliasari Rienita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1998.
  4. Tarigan R. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta: Penerbit Widya Medika, 1994: 28-30.
  5. Hasibuan S, Penuntun prosedur diagnosa penyakit mulut. Medan: Bina teknik press, 2006: 30-1.
  6. Pedersen G W. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih bahasa. Purwanto, Basoeseno. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996: 268-78.

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2011 in Perkuliahan

 

Abi dan Sopir Angkot


tawa anak jalanan

Sore itu, Abi baru saja pulang dari mengajar les privat seorang anak yang akan mengikuti SNMPTN. Ketika di angkot, Abi berjumpa dengan dua orang pengamen cilik dengan rambut dicat kemerahan dan anting-anting. Pemandangan seperti itu ternyata sudah dianggap biasa oleh masyarakat di kota tempat perantauan Abi ini. Nah, kebetulan saat itu alhamdulillah si Abi sedang mendapat rezeki lebih, seseorang memberinya nasi bungkus, padahal sebenarnya ada banyak lauk di kosnya, tapi apa daya karena merasa tidak enak dengan orang yang memberinya itu, akhirnya nasi bungkus itu diterimanya juga. Nah, lantas apa hubungannya antara nasi bungkus dan dua bocah cilik ini. Oleh karena takut nantinya berbuat mubazir, Abi segera memanggil kedua pengamen cilik tersebut dan memberikan nasi tersebut kepada mereka. Melihat perbuatan Abi, sopir angkot yang ditumpanginya serta merta menegurnya.
“Eh, dek. Tak usahlah kau kasih mereka itu. Orang mereka itu suka nge-lem. Tahu kau nge-lem kan?”
Abi membalas teguran si abang sopir itu, ia merasa ini kesempatannya untuk bisa lebih mengenali seperti apa watak dan pemikiran orang-orang di luar sana, tentunya akan berbeda dengan anak-anak kampus yang selama ini dikenalinya.
“Oh, iya ya Bang. Astaghfirullah. Kok bisa ya bang? Saya rasa itu semua karena mereka kurang mendapatkan bimbingan dan pendidikan dari orang tuanya, betul ga Bang?”
Lantas si Abang sopir itu menjawab, “Wah dek, kalau kau bilang itu salah orang tuanya, Aku terus terang marah sama kau, dek”.
Waduh, kok marah pula si Abang ini, pikir Abi.
“Orang tua tak mungkin mau anaknya jelek, dek. Orang tua itu pastilah selalu menegur anaknya kalau buat salah, tapi seringkali anaknya ini yang memang bandel, ya mau diapakan lagi?”
Kayaknya si Abang ini curcol lah – -“
“Karena Aku juga orang tua, dek, jadi Aku juga merasakan. Makanya kalau kau bilang gitu, Aku marah, dek”
Jadi, kita bisa menarik kesimpulan dari kisah ini, bahwa:
1. Sopir angkot juga manusia *loh*
Artinya, apapun profesi orang tua, mau dia berpendidikan atau tidak, mereka akan memikirkan anaknya. Sopir angkot ini adalah contoh orang tua yang juga memikirkan anaknya.
2. Sebagian orang tua berpikir bahwa mereka telah melakukan yang terbaik untuk anaknya
Mungkin beberapa orang tua akan berpikir bahwa dengan mereka bekerja keras di luar sana *luar mane cuy? Luar angkasa?* mereka telah melakukan usaha untuk masa depan anaknya. Atau dengan terus-menerus menegur anak mereka yang berbuat salah, mereka juga menganggap itulah usaha terbaik yang mereka lakukan demi masa depan anaknya. Memang benar, usaha-usaha seperti itu termasuk ke dalam bentuk perhatian orang tua kepada anaknya. Akan tetapi, yang anak perlukan bukan hanya itu. Saya yakin sebagian besar anak pasti akan merasa senang jika diri mereka diperhatikan oleh orang tuanya dengan cara yang lain, misalnya dengan mengajak mereka sholat berjamaah, tilawah bersama, makan malam sambil bercerita tentang kegiatan mereka hari ini, sepertinya itu lebih menyentuh hati mereka dibanding dengan hanya sekedar teguran dan tak lupa pula seharusnya di sini harus selalu ada kontrol dari orang tua terhadap perkembangan anaknya, orang tua harus tahu kegiatan apa saja yang dilakukan oleh anaknya, dengan siapa anaknya bergaul di luar sana, dan sebagainya. Orang tua hendaklah dapat menjadi tempat pertama anak menumpahkan keluh kesahnya, bukan pada teman-temannya. Setuju ga?
3. Anak bandel? Ga tau mau diapain lagi *–?*
Nah, kata-kata ini biasanya seringkali muncul dan kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang tua hendaklah senantiasa sabar dalam menghadapi anaknya, apalagi jika anak tersebut belum aqil baligh alias belum dewasa, mereka tentunya belum mengerti mana yang salah dan mana yang benar. Oleh karena itu di sinilah peran orang tua untuk senantiasa memberikan bimbingan kepada anak mereka. Anak bandel itu kan biasa, kalau orang dewasa yang bandel, nah itu baru luar biasa.
NB: Tulisan ini hanya sekadar pendapat dari penulis dalam menanggapi masalah yang ada di masyarakat. Sebaiknya tulisan ini tidak dijadikan referensi bagi Anda yang membacanya, akan tetapi jika Anda ingin juga berpendapat, tafaddhol (dipersilahkan) untuk menuliskan komentar.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 1, 2011 in Cerita kecil