RSS

Arsip Bulanan: April 2010

Kendo (bag.1)


Sudah lama saya ingin bermain kendo dan akhirnya bisa kesampaian juga hari ini. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama saya di dunia kendo dan mungkin saat baru memasuki tempat latihan kendo tadi, saya tampak gugup, maklum karena saya baru pemula yang tidak tahu peraturan, tata cara, dan hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam dunia kendo. Walaupun begitu, saya masih juga nekat untuk masuk ke tempat latihan kendo yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal itu. Saya datang bersama teman saya yang sudah lebih atas tingkatan kendonya daripada saya. Saat masuk ke ruangan itu, saya hanya bisa celingak-celinguk sambil sesekali bertanya kepada teman saya bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan selama masa pelatihan ini. Akhirnya, pelatihan kendo pun dimulai dan saya terpisah dari teman saya tadi menuju ke kelompok pemula. Kami diajari oleh seorang bapak yang sudah cukup berumur yang saya ga tahu siapa namanya. Dia menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam dunia kendo, mulai dari cara masuk ke tempat pelatihan hingga cara mengakhiri latihan kendo. Guru kendo kami itu berkata bahwa:

  1. Pada saat hendak memasuki ruang latihan kendo, alas kaki harus dibuka dan diletakkan di depan pintu dengan ujung alas kaki (saat itu saya pakai sepatu) yang menghadap keluar dari pintu.
  2. Kemudian, ketika kita memasuki ruangan, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membungkuk ke suatu arah (bebas arahnya mau ke mana saja) dengan meneriakkan kata “hosh”
  3. Ambillah shinai, yakni pedang yang terbuat dari kayu yang biasa dipakai dalam kendo, dengan benang shinai menghadap ke bawah
  4. Peganglah shinai pada bagian pangkalnya , perlu diketahui bahwa dalam dunia kendo, shinai ini tidak boleh dipegang seperti cara memegang tongkat dan ujung shinai tidak boleh menyentuh lantai atau tanah
  5. Sebelum memulai latihan, biasanya para anggota kendo berkumpul. Pada saat berkumpul ini, cara duduk perlu diperhatikan, yakni dengan melipat kedua lutut ke dalam (bukan bersila) dengan kedua telapak tangan ditelungkupkan di atas pangkal paha.
  6. Beri hormat kepada sensei atau senpai yang mengajar kendo dengan cara menelungkupkan kedua telapak tangan ke lantai seraya membungkukkan badan selama beberapa detik hingga sensei atau senpai tersebut menegakkan badannya kembali.
  7. Kemudian dilanjutkan dengan hening cipta (lupa saya apa istilahnya)selama beberapa detik.
  8. Setelah hening cipta, bila diberi perintah “girij” yang artinya berdiri, maka kita harus berdiri, caranya adalah dengan mengambil shinai dengan posisi seperti yang telah dijelaskan pada poin 4. Dahulukan kaki kanan untuk berdiri, tahan, lalu berdirilah.
  9. Dan latihan kendo pun dapat segera dimulai.

To be continue…

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2010 in Hobi

 

Lima belas


Hari ini tepat lima belas tahun yang lalu, seorang bayi mungil kecil dilahirkan dari rahim seorang ibu yang luar biasa dan mungkin saya tidak pernah membayangkan bagaimana wajah dan karakter dari bayi itu lima belas tahun kemudian. Ayah dari bayi itu begitu gembira saat melihat bayi itu muncul ke bumi karena bayinya laki-laki. Pria itu menciumi bayi yang masih bau darah itu den gan penuh kasih sayang.

Waktu pun berlalu. Saya  heran saat itu, “Mengapa bayi itu tidak muncul setelah beberapa hari kemudian?” Rupanya sang bayi kecil tadi sedang dirawat bersama ibunya, yang saya pikirkan saat itu adalah tampaknya ada ‘masalah’ dengan mereka berdua, baik si bayi maupun ibunya. Entah apa masalah yang terjadi dengan bayinya, tapi yang saya tahu hanyalah bahwa si ibu sakit setelah melahirkan bayinya. Semua orang pun jadi heboh dibuatnya. Keluarga si Ibu ini pun datang untuk menjenguk sekaligus memberikan ucapan selamat atas kelahiran putra mereka. Ada banyak makanan dan bingkisan mereka berikan kepada ibu itu dan suaminya.

Tanpa terasa, bayi itu kini terah berubah menjadi seorang anak balita yang lincah. Anak itu sedikit cengeng, tapi menggemaskan,

bahkan saya sempat terpikir saat itu bahwa anak ini lebih menggemaskan bila ia sedang menangis. Pipinya yang tembab dan kulitnya yang putih membuat saya selalu tergoda untuk mencubitnya dan saat ia mulai menangis, saya akan mencubitinya lagi karena pipinya tampak semakin tembam. Dia, adik saya satu-satunya yang sekarang sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Rasanya baru kemarin sore saya jadi anak umur lima belas tahun, eh ternyata sudah disusul sama adik saya aja. Sekarang mana mau lagi dia dicubiti dan diciumi pipinya oleh saya dan saya pun rasanya sudah tidak mau lagi untuk melakukannya.

Lima belas tahun. Kalau saya sih waktu itu sedang gencar-gencarnya menghadapi UN dan tes masuk SMA dan di usia itu pula saya diberikan pilihan yang membuat hati dan pikiran saya bimbang yakni pilih masuk SMA unggulan dengan konsekuensi saya harus tahan banting dan berani untuk menerima kekalahan kapan saja atau masuk SMA negeri yang biasa-biasa aja dengan konsekuensi hidupnya juga biasa-biasa aja, tapi tidak terlalu sulit untuk bisa menjadi ikan besar di kolam yang kecil . Saat itu saya memutuskan

untuk masuk ke SMA unggulan dengan alasan dengan mauk ke sekolah itu, motivasi saya dalam belajar akan meningkat, lagipula saya tidak mau jadi ikan besar di kolam kecil karena itu bisa buat saya jadi lupa diri dan merasa sudah hebat, padahal masih ada langit di atas langit. Begitu pula sama halnya dengan apa yang sedang dialami adik saya, tapi perbedaannya adalah adik saya sama sekali tidak berani untuk masuk ke sekolah unggulan. Ia lebih suka hidup biasa-biasa saja asalkan ia dapat melakukan hal-hal yang disukainya.

Adik saya itu sangat suka mengotak-atik sesuatu dan hal itu sudah terlihat saat ia masih kecil. Anak itu sering mengotak-atik mobil-mobilannya, membongkarnya, dan menyusunnya kembali dengan susunan yang disukainya. Saat menginjak usia sekolah dasar, ia bahkan dapa

t memperbaiki televisi di rumah kami yang rusak. Oleh karena kebiasaannya itulah, adik saya ingin masuk ke sekolah teknik, walaupun sebenarnya dia sudah diterima di salah satu SMA favorit di kota kelahiran kami itu. Saya ga bermaksud untuk membangga-banggakan adik saya, tetapi saya hanya ingin berbagi cerita tentang usia lima belas tahun yang penuh dengan kebimbangan, belajar untuk membuat sebuah keputusan, dan berani untuk mengambil risiko dari apa yang telah diputuskan itu. Saya benar-benar merasakan dilema saat itu. Semoga di usiamu yang ke lima belas ini, engkau dapat menjadi manusia yang lebih bijak dan dapat menyelesaikan d

ilema-dilema yang ada dalam hidup ini (walaupun sebenarnya dia itu orangnya nyantai banget). Selamat berjuang ya adikku apapun pilih

anmu kakak doakan semoga Allah memberikan pilihan yang terbaik untuk dirimu. A..min.



 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2010 in Cerita kecil

 

Bismillah


Bismillah, ya, mungkin kata itulah yang muncul pertama kali di benak saya saat hendak memulai petualangan di dunia blogger ini. Mungkin di antara banyak orang, saya termasuk orang yang ketinggalan karena baru sekarang terpikir untuk membuat blog. Bukannya saya tidak tahu tentang ‘dunia ini’, hanya saja mungkin saya termasuk orang yang malas untuk menge-post-kan tulisan-tulisan saya, terlebih lagi karena sering kali saya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mempublikasikan sesuatu. Apalagi semenjak banyaknya kasus yang diberitakan di televisi tentang orang-orang yang harus berurusan di meja hijau cuma gara-gara mengungkapkan isi pikiran dan hati mereka di dunia maya. Oleh karena itu, terkadang saya bingung untuk menyampaikan pendapat-pendapat saya di muka umum. Lantas mengapa saya sekarang mau menulis di blog? Jawabannya adalah karena saya rasa saya butuh sebuah media yang bisa melatih saya dalam membuat suatu tulisan yang layak untuk dipublikasikan. Saya harap dengan menulis di blog ini, saya akan menerima lebih banyak saran dan kritik dari para pembaca sekalian. Semoga blog ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Amin. Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 21, 2010 in Uncategorized