RSS

Cerita Koas-OS-Part 2

15 Apr

Masih di OS, alias Oral Surgery alias Bedah Mulut alias BM..
Kali ini, saya akan lanjutkan petualangan di dunia BM pasca cerita pre-test, aplikasi klinik, dan ‘penunggu’ BM (Baca: Cerita Koas-OS-Part 1). Di BM, usai berjumpa dengan pre-test dan aplikasi klinik, kita akan ‘bermain suntik-suntikan’. Yups, permainan ini hanya boleh dilakukan oleh koas dan sesama koas di bawah pengawasan dokter. Untuk ke pasien… jangan coba-coba.
Jadi, saat itu, tibalah hari saat para anak Koas Gigi ‘main suntik-suntikan’. Believe it or not, walaupun sudah mau jadi dokter, ternyata

Photo-0214

1st exo tooth

tak sedikit dari anak Koas yang takut disuntik. Bahkan, entahlah ini disebut apa.. ada anak koas yang sanking takutnya disuntik, ia meletakkan anestesi topikal (bahan buat kebas yang dipakai dengan cara dioles) tak hanya di sekitar titik yang akan disuntik, melainkan semua permukaan rongga mulut, baik bagian dalam maupun bagian luar mulutnya pun diberi bahan itu. Itu cerita orang. Nah, lantas bagaimana nasib saya dan partner saya hari itu?
Deg-degan, tangan tremor (gemetar), keringat bercucuran… begitulah sebagian wajah yang akan terlihat pada anak koas yang sedang belajar anestesi lokal (suntik). Kami dibagi menjadi 6 kelompok dengan anggota masing-masing 2 orang, sesuai partner-nya. Saya dan partner hanya terdiam saja, freeze, membeku, membiarkan dan mempersilahkan dengan senang hati kepada para koas yang ingin duduk manis di dental unit yang kosong untuk mempraktikkan cara melakukan anestesi lokal.

Hingga akhirnya, hanya kami berdualah yang tersisa. Partner saya meminta saya untuk lebih dulu melakukan anestesi. Saya mengambil jarum suntik yang ada di meja dental unit, lalu memasukkan bahan anestesi yang ada di sana ke dalam jarum suntik. Persiapan selesai. Saya bersyukur, tangan saya tidak tremor. Saya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sendiri.

“Bismillah”. Mulai dari memasukkan jarum suntik ke titik yang harus disuntik, menekan jarum agar bahan anestesi masuk ke dalam jaringannya, hingga mengeluarkan jarum suntik, tak hentinya Saya berzikir.. bukan bermaksud sombong, Saya takut nanti dianggap Allah sombong kalau tidak berzikir saat itu. Bukan apa-apa, anestesi adalah hal yang sangat penting dalam tindakan di bedah mulut, akan sangat berisiko apabila hal ini gagal dilakukan.

Lanjut. Berikutnya giliran saya yang disuntik. Sebenarnya, Saya agak cemas di awal karena takut terjadi kesalahan dalam anestesi, namun dokter kami mengatakan, “Yang penting, kamu percaya kepada partner-mu.” Sebuah kalimat yang cukup menenangkan saat itu dan sebenarnya maknanya dalam menurutku.

Salah satu teknik anestesi yang harus kami lakukan adalah anestesi blok mandibula (membuat kebas sebagian rahang bawah). Untuk melakukan anestesi tersebut, kami harus meraba tulang yang ada di bagian belakang rahang, namanya os. oblique interna. Secara umum, pada orang dengan rahang yang normal, tulang ini mudah ditemukan. Akan tetapi, tidak begitu dengan saya. Kata partner saya, tulang saya sulit diraba, terasa ada, namun posisinya tidak mantap, alias ‘lari-lari’. Kata dokter yang memantau kami, sepertinya ada kelainan pada sendi rahang saya.

Perasaan saya jadi campur aduk, antara kasihan dan cemas. Kasihan, karena partner saya menjadi kesulitan karena saya. Cemas, karena bila tidak awas, posisi jarum suntiknya bisa saja salah. And do you know, what happened then?

“Ada darah, dok!” Seru si partner

“Aspirasi positif!”, kata dokter. “Posisi jarumnya kurang tepat.”

Saya? 0.0 blank

Ketika jarum dikeluarkan, saya serta merta merasakan sakit pada otot rahang.

“Ulang lagi!” kata dokter kepada partner saya.

“Buka mulutnya lebar-lebar.” Instruksi dokter itu kepada saya.
Saya? Hening. Pasrah. Saya biarkan jarum itu masuk lagi ke dalam mulut. Syukurlah… kali ini berhasil.

Aplikasi klinik tentang teknik anestesi selesai. Pasukan koas dibubarkan. Kami kembali ke ruang koas. Kurang dari setengah jam, mulai ada yang koas yang bicaranya celat-celat, yah efek anestesi. Biasanya setelah dua jam, efeknya akan hilang. Bagaimana dengan saya?

Setelah dua jam, efek bahan anestesi itu hilang dari rahang saya. Akan tetapi, ada sesuatu yang saya rasa agak berbeda. Hal ini baru saya sadari setelah satu minggu kemudian.

Saya : Bekas anestesimu sudah tak sakit lagi?

Teman koas : yah, sudah tak terasa lagi, kenapa?

Saya : oh ga ada.. nanya aja (padahal sebenarnya ‘I think, I’m not well)

Saya hanya bisa membuka rahang kurang dari satu jari. Padahal, kata dokter, normalnya orang bisa membuka mulut sampai kurang lebih tiga jari. Namun, saya mencoba pakai teorinya si Ranchordas Chancad ‘All is well… all is well…. All is well’ walau sebenarnya saya sendiri tidak terlalu yakin. Namun, Alhamdulillah, setelah satu bulan kemudian, rahang saya bekerja seperti biasanya.

Lantas ibroh (pelajaran) apa yang bisa kita ambil dari kisah ini? Saya rangkum dalam tiga aspek:
1. Emotion
Belajar melatih emosi. Contoh lain dalam dunia koas, misalnya tentang 3S, Senyum, Sapa, Salam, harus dilakukan, mau koasnya lagi good mood atau bad mood. Melakukan tindakan perawatan, mulai dari persiapan alat, anestesi, cabut gigi, sampai pemberian obat harus dilakukan dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Di koas, masalah tidak akan selesai dengan ketegangan urat syaraf, pun begitu dalam kehidupan kita sehari-hari bukan?🙂

2. Trust
Belajar mempercayai orang lain. Rasa percaya ini harus dibangun, tidak hanya antara pasien dan koas (dokter), tetapi juga antara sesama koas. Tanpa sikap satu ini, saya yakin sulit untuk menjadikan dunia koas yang sehat, aman, dan sejahtera. Dan sesungguhnya sikap ini tidak hanya berlaku di dunia koas, namun juga berlaku di dunia yang sebenarnya (emang dunia koas itu dunia tidak sebenarnya? O..O)

3. Believe
Menambah keyakinan kita akan kuasa-Nya. Dzikir. Ingatlah Dia dalam kondisi apapun,termasuk saat kerja di klinik, bukan hanya ketika sholat saja kita mengingat-Nya. I am without You… Nothing, Aku tanpa-Mu.. nol besar. Bayangkan, apa yang akan terjadi bila tiba-tiba jarum yang saya masukkan ke dalam mulut teman saya itu ditakdirkan oleh Allah untuk patah tiba-tiba. Atau Allah mentakdirkan tangan saya tremor saat itu. Atau Allah mentakdirkan terjadi kesalahan teknik saat saya sedang melakukan anestesi. Apa yang akan terjadi kemudian? Maka, ini adalah pelajaran yang paling berharga yang saya dapatkan di departemen ini. Tentang percayaku pada kuasa-Nya.
Kisah ini masih awal, tak hanya itu, masih ada banyak kisah yang terjadi di departemen ini… tunggu kisah selanjutnya. Bersambung…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2014 in Cerita kecil, Perkuliahan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: