RSS

Arsip Kategori: Islam

Bagaimana tidak?


Jika kau tanyakan padaku tentang..

Ukhuwah..

Kan kujawab bahwa

itu sesuatu yang akan selalu membuat tubuhku merinding..

Aku..

Si kaku yang serius, penuh ambisius

Tiba-tiba diperlakukan dengan begitu lembut bak bunga lotus

dalam dekapan ukhuwah

dan aku benar-benar telah terjatuh dalam dekapannya

Bagaimana ini tidak membuatku merinding?

Orang yang tak peduli, hedonis, egois, ya itu Aku

Tapi ukhuwah itu begitu cair, saling berbagi rasa, saling memikirkan satu sama lain

Bagaimana ini tidak membuatku merinding?

Aku..

Yang angkuh, yang sinis, yang meremehkan

Tapi, ukhuwah membawa senyum manis, ketulusan,  keikhlasan,

yang sekali lagi ini membuatku merinding

Kekuatan apa ini?

Apakah ini magic?

Tidak, bahkan ini lebih dari magic, tapi ini nyata, ini kekuatan ilahi

-Tanah rantau, Medan, 27 Jumadil akhir 1433H-

*Ukhuwah=persaudaraan

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 19, 2012 in Islam

 

Tag:

Lucu banget deh -.-“


Ini kisah nyata, sebuah pengalaman ketika saya berada di negeri ini.

Saat itu, saya sedang berada di dalam sebuah bus dalam perjalanan menuju pasar di pusat kota. Seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam bis. Awalnya saya mengira bahwa sang Bapak akan membawakan sebuah lagu, ya, kasarnya saya pikir si Bapak mau ngamen. Namun tahukah Anda, apa yang dilakukan oleh si Bapak. Ia memunajatkan sebuah do’a yang sangat lazim di telinga kita, “Allahumma innaka salamatan fiddiin, …”. Subhanallah si Bapak Bapak berdo’a dulu sebelum ngamen, pikir saya saat itu.

Setelah do’a selesai dipanjatkan, ternyata apa yang terjadi? Si Bapak menyodorkan sebuah kantung plastik kosong –ya.. itu…bekas bungkus permen- kepada para penumpang bus. Eh, apa-apaan ini? Dan parahnya lagi, ada pula orang yang mau merogoh dompetnya dan memasukkan UANG ke dalam kantung itu. Halooo!

Mereka menJUAL DO’A? Benarkah? Saya tidak percaya. Pasti saya sedang berada dalam dunia fantasi. Haha -.-“

Ingin rasanya menegur si Bapak, namun karena saya sedang berjalan dengan ibu saya, saya tak berani mengambil risiko untuk melakukan hal itu, saya takut teguran itu hanya akan berbuntut pada argumentasi panjang yang tak usai atau mungkin si Bapak akan mengatakan, “Kalau begitu carikanlah Aku kerja!!” atau mungkin saya akan ‘dihajar’ oleh massa atau memang sayanya ini yang pecundang,  Hah.. apapun itu, daripada ibu saya stress nanti lihat saya, hah.. semoga kalau ketemu kejadian seperti ini lagi, saya telah diberikan keberanian yang cukup oleh Allah. A..min.

Bagaimana tanggapan Anda?

Negeri ini memang lucu, masalahnya adalah kapan kelucuan ini akan berakhir dan bagaimana solusinya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2012 in Cerita kecil, Islam

 

Ya Sohib


Ya sohib, jalan ini memang bukanlah jalan yang beralaskan permadani

dengan bertabur bunga-bunga yang indah warna-warni

Ini jalan, jalan terjal, berliku, penuh duri,

Mungkin saja jikalau tak hati-hati,

Sedikit saja dikau menginjakkan kaki,

Engkau akan segera pergi berlari,

Tuk tinggalkan jalan ini

 

Ya sohib di jalan ini kita berjuang bersama,

Ada suka, maupun duka, walaupun sebenarnya lebih banyak dukanya

Kita pegang jari-jemari kita kuat-kuat sembari berjalan sedepa demi sedepa

Kadang kita terjatuh, tergelincir, kembali berdiri, lalu tertusuk lagi oleh durinya

 

Kadang, kukatakan padamu ya Sohib, tidakkah kita ini sudah gila

Karena memilih jalan yang hanya membuat peluh dan perih di dalam dada

Kenapa kita tidak sudahi saja setiap depa

Atau setidaknya beristirahat barang sejenak saja

 

Tapi, kita terus menapakkan langkah

Karena di ujung jalan ini ada kampung yang indah

Yang akan menjadi tempat peristirahatan kita untuk melepas lelah

 

Namun, kutanyakan kembali lagi padamu, ya Sohib, akankah kita bisa sampai di kampung itu bersama dengan yang lain

Kutakut, saat kita menemukan persimpangan, kita akan berbelok menuju kampung yang lain

 

Atau mungkin saat tiba di kampung, kita malah diusir dari pintu gerbang

Atau mungkin kita terjatuh saat tiba di jalan yang berlubang, kakipun patah dan hanya bisa mengerang

Atau  mungkin malah masuk ke dalam jurang

Na’udzubillahi min zalik

Sesungguhnya pada Allah lah semua itu dikembalikan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 11, 2011 in Islam

 

Memandang dengan Hati


“Pandangan mata itu menipu

Pandangan hati itu yang hakiki”

Demikianlah potongan lirik yang dilantunkan oleh sebuah grup nasyid yang pernah saya dengar. Dan saya sangat sepakat dengan hal itu. Dalam menilai seseorang hendaklah jangan dilihat dari tampilan luar, tetapi utamakanlah untuk melihat tampilan hatinya. Misal seorang yang rajin beribadah di mata kita, bertutur kata lemah lembut, santun perilakunya, dan sifat-sifat baik lainnya  yang kita lihat secara kasat mata  belum tentu itulah makna yang sesungguhnya dari apa yang dikerjakannya. Demikian juga sebaliknya. Semua itu kembali lagi kepada hakikat hati yang berada di dalam jiwa manusia. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa si A itu jelek kelakuannya, si X itu baik sekali orangnya hanya dengan apa yang selama kita lihat dari dirinya. Ingat. Pandangan mata manusia itu sering kali menipu.

Nah, sekarang, lantas bagaimana kita bisa memandang dengan hati, bukankah pandangan hati itu yang hakiki? Pandangan hati pada manusia hanya ada pada orang-orang yang bersih keimanannya kepada Allah SWT. Akan tetapi, sesungguhnya, pandangan yang paling jernih untuk melihat kejernihan hati hanya dimiliki oleh Allah SWT. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak bersedih hati ketika tak ada seorang pun yang menyanjung kita, atau ketika kita merasa diri kita ini tidak punya kelebihan apa-apa, tidak popular, dan sebagainya. Tapi, ingatlah pandangan yang hakiki itu ada pada Allah SWT. Jadi, yang kita perlu lakukan hanyalah bagaimana cara kita mencuri perhatian Allah, bagaimana cara kita bisa menggetarkan Arsy Allah seperti yang pernah dilakukan oleh Thalhah bin Ubaidillah, dan sebagainya karena itulah penilaian yang hakiki, yakni penilaian Allah SWT. So, ketika kita berbuat sesuatu yang baik, cukup hanya Allah saja yang tahu, cukup hanya Allah sajalah yang melihat, cukup Allah sajalah yang menilai,  karena itu yang hakiki.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2011 in Islam

 

Kenangan Ramadhan 1432 H


Gaung

“Bismillahirrohmanirrohim” satu sudut berkumandang

Sejenak mata memandang

Hatipun ikut mengerang

“Cepatlah Fulan, jangan sampai kau ketinggalan!”

Satu sisi yang lain dari hatipun menyerang

“Engkau riya’ wahai Fulan?”

Fulanpun menjadi bimbang

Semangatnya untuk ikut bertilawah hampir jadi kayu usang

Tapi Fulan dengan khusyuk berdoa dalam hati

Berusaha untuk memurnikan niatnya sebelum ditelan penyakit hati

“Wahai Zat Yang Maha membolak-balikkan hati, jadikanlah hanya diri-Mu yang ada di hati”

“Jauhkanlah hamba dari penyakit hati yang dapat membuat hati menjadi mati”

Di sini, dalam kesendirianku, kuteringat akan suara-suara itu

Suara yang belum kutemui di sini

Ya, suara yang Rasulullah sebut bagai “gaungan lebah”

Kau tahu apa itu?

Itu adalah suara-suara orang yang bertilawah di sepanjang malam selama bulan Ramadhon 1432H.

Empat hari tiga malam lamanya.

Rindu

Aku rindu setengah mati…. *backsound demasiv*

Aku rindu dengan kekuatan ukhuwah yang membuatku merinding di sana

Kekuatan untuk saling mengingatkan untuk mengingat Allah

Dari sana, Aku belajar mengapa Allah mengatakan bahwa semua yang diciptakan oleh-Nya ini tidak lain hanyalah untuk mengingat-Nya

Tak luput pula didalamnya pita suara yang diciptakan oleh Allah untuk manusia

Ia diciptakan bukan untuk me-ghibah,

bukan untuk memaki  orang,

bukan untuk berdusta,

bukan untuk menyatakan kesenangan dalam tawa berlebihan

yang dapat mematikan hati atau hal-hal tidak terpuji lainnya.

Akan tetapi, ia diciptakan, tidak lain hanyalah untuk mengingat Allah jualah, baik dengan berdzikir, bersholawat, ataupun bertilawah.

Aku makin rindu dengan suara itu.

Ya Allah… hamba mohon pinjamkanlah kembali hamba nikmat bersuara itu ya Allah.

A…mi…n.

-Medan, 16 Agustus 2011-

– dalam suara yang besakitan-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 3, 2011 in Cerita kecil, Islam

 

Jujur itu nguntungin?


Sering kali kita menuntut kesantunan dari para petinggi yang duduk di atas sana. Bagaimana dengan diri Kita sendiri? Apakah Kita sudah santun? Bagaimana kategori santun di mata Kita? Hmm.. mungkin makna santun di sini sudah mengalami pergeseran ya.. Santun itu berarti  mengikuti apa yang kebanyakan teman-teman lakukan, misalnya, datang telat ke kampus, rambut gondrong, nongkrong di lapau, ngirup asep tembakau, beli putau… ehhh salah ya? Astaghfirullah. Na’udzubillahiminzalik. Amit-amit dah. Kalo kayak gini caranya bakalan hancur ini bangsa dan Negara. Mendingan kita semua pade bertobat dah, sebelum di akhirat nanti kita dibabat.

Nah, kali ini kesantunan yang akan kita bicarakan di sini adalah masalah kejujuran. Kita sering melihat dan menyaksikan bahwa ada banyak orang yang menuntut kejujuran dan kebersihan dari pemerintah dan saya rasa mungkin Kita adalah salah satu orang yang pernah atau mungkin setidaknya ingin menuntut kejujuran itu. Namun, sebelum Kita menuntut kejujuran dan kebersihan orang lain, sudah sepatutnya Kita bertanya kepada diri Kita sendiri, “Sudah seberapa jujurkah diri saya?”

Lantas, apa makna kejujuran bagi Kita, khususnya para mahasiswa yang umumnya seringkali menuntut kejujuran. Apakah jujur yang Kita maksudkan adalah dengan cara mencontek ketika ujian, atau menandatangani absen teman yang tidak hadir, atau membuat surat sakit sendiri sebagai izin tidak mengikuti perkuliahan, atau apa? Membohongi dosen? Itukah kejujuran? Lantas dengan bermental seperti itukah kiranya kita berani dengan getolnya untuk berdemo di jalan-jalan untuk menuntut tegaknya kejujuran? Berdemo boleh saja, toh pada hakikatnya, demonstrasi merupakan salah satu sarana untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, Mungkin hal-hal kecil ini -tidak mencontek saat ujian, berbohong kepada dosen, dkk- sepele memang di mata kita –saya harap kita semua tidak menyepelekannya- tapi saya yakin ini akan berdampak besar pada masa depan bangsa ini. Wallahua’lam. –loh kok jadi ngomongin demo-

Kembali kepada topik kita semula, So, kenapa sih kita mesti jujur? Entahlah –loh- semua pilihan ada pada Anda yang membaca, tapi menurut saya selama hampir 20 tahun mengarungi hidup ini –kayak udah tuiiiir aja- saya merasakan bahwa dengan jujur, hidup akan menjadi lebih mudah. Percaya? Mari kita renungkan –jika Anda berkenan- ‘statement’ yang baru saja saya lontarkan ke hadapan Anda. Misal, jujur pada saat mengerjakan ujian, dengan jujur, tenaga dan waktu kita tidak akan habis sia-sia hanya untuk menoleh ke kanan-kiri, depan-belakang, dan tiba-tiba teeeeeeet, bel tanda mengerjakan soal ujian sudah berakhir. Alhasil, ok mungkin bagi yang sempat curi-curi jawaban merasa dirinya beruntung, tapi kan belum pasti juga jawaban yang dicuri itu benar, malah mungkin yang bertanya dengan yang ditanya sama-sama bingung jawaban yang benar yang mana. Nah, itu bagi yang sempat curi-curi, bagi yang sudah toleh depan-belakang, kiri-kanan, tapi masih tidak mendapatkan juga jawaban dari soal ujian itu, mungkin akan merasa itu bahwa dirinya sedang mendapat kesialan yang besar pada hari itu. Bandingkan jika kondisinya seperti ini; saat mengerjakan ujian kita tidak melakukan olahraga (baca: tolah-toleh), berdasarkan pengalaman saya, saya merasakan adanya ketenangan di dalam diri dan pikiran saya, seolah saya merasakan dunia saat ujian itu hanya milik kami berdua, eh maksudnya saya dan Yang Maha Berilmu alias Sang Pencipta saya, alias Allah SWT. Sebego-bego dan sepelupa-lupanya saya tentang materi ujian yang diujikan pada hari itu, alhamdulillah selalu saja ada semacam gerakan hati yang mengarahkan saya untuk memilih jawaban di antara pilihan jawaban ujian tersebut, dan ketika di cek jawabannya, saya terheran-heran dibuatnya, ‘loh benar itu toh jawabannya?’, kalau kayak gini apa Anda ga makin jatuh cinte nih sama Allah? Tapi, janji dulu ya sama Allah, “Ya Allah Aku janji insyaAllah pada ujian ini Aku akan berusaha mengerjakan ujian dengan jujur karena itu Aku mohon bantuan dan arahan-Mu dalam setiap memilih jawaban ujian ini ya Allah, A..mi..n”

Itu baru jujur dalam mengerjakan ujian, sodara-sodara, kita belum membahas yang lain nih. Yang lain ntar kapan-kapan aja ya, insyaAllah di lain waktu kita bahas lagi pembicaraan tentang J.U.J.U.R. ini

wassalam.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2011 in Cerita kecil, Islam

 

Untuk-Mu


Untuk-Mu Yaa Rabbi,

Indahnya lantunan surat Cinta-Mu membuat air mataku mengalir deras bersatu dalam samudera. Sungguh kurasakan betapa Engkau sangat mencintaiku. Kutakut, kutak bisa membalas cinta ini karena hatiku yang telah ternodai dengan cinta-cintaku kepada yang lain atau mungkin hati ini yang keras seperti batu. Kutakut, saat Cinta ini tak terbalas, Engkau menjauh dariku… sungguh kutakmau..

Engkau berikan segala yang terbaik untukku, meskipun kusering mengacuhkan-Mu, alergi terhadap seruan-Mu, bahkan bisa-bisanya Aku mengatakan yang Engkau berikan bukan yang terbaik untukku hanya karena itu tak sesuai dengan keinginanku. Na’udzubillahiminzaalik.

Engkau menyuruhku untuk berlaku jujur, kutak mau, kukatakan pada-Mu, alangkah bodoh dan ruginya orang-orang yang sudah berlaku jujur. Engkau menyuruhku untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, kutak mau, kukatakan pada-Mu, biar para ulama dan orang-orang yang sok alim saja yang melakukannya, itu bukan tanggung jawabku. Engkau menyuruhku untuk memberi hijab (batas) dalam bergaul dengan lawan jenis, kutak mau, kukatakan pada-Mu, hari gini mesti gaul yang gitu2an malah menghambat pergaulan kami. Engkau menyuruhku untuk bertolong-tolongan di dalam kebaikan di jalan-Mu ya Rabb, kutak mau, kukatakan kepada-Mu, ya Aku menolong sesama dengan berbagai cara, termasuk cara-cara yang hina, cara-cara yang keji yang tidak Engkau sukai… dan.. kukatakan kembali kepada-Mu, Aku hanya akan menolong orang-orang yang sesuai dengan kepentinganku, yang menghambat jalanku tidak akan kutolong, bahkan sudah sepantasnyalah untuk kuhalangi, Astaghfirullah… SIAPA AKU? Hingga berani-beraninya diriku seperti itu.

Padahal, Aku hanyalah hamba yang kecil dan hina, yang diciptakan oleh Zat Yang Maha Perkasa dan Maha Besar, Dialah Engkau, Ya Allah, Tuhanku. Jika tak ada izin dari-Mu, Aku tak kan pernah ada di dunia ini. Sudah merasa hebatkah diri ini, hingga berani-beraninya Aku menantang Penciptaku. Astaghfirullah, kumohon ampuni hamba-Mu ini yang Rabb.

Kuyakin, jauh di dalam kelam dan buruknya lakuku terhadap-Mu, Kuingin diriku dapat membalas Cinta-Mu. Cinta yang tulus dan suci, yang siap mengorbankan apapun yang kumiliki karena toh sebenarnya yang kumiliki, tidak seharusnya bukan ‘kumiliki’, tapi apapun yang Engkau titipkan sebagai perbekalan untuk hidup di dunia ini padaku, harta, pengetahuan, bahkan nyawa sekalipun, hanya untuk menegakkan ajaran-Mu, itulah yang seharusnya yang menjadi kepentinganku sebab kuyakin janji-Mu itu pasti, bahwa jika kumengejar untuk kenikmatan di kampung akhirat, kenikmatan dunia ini juga akan mengikuti, walaupun tak pantas bagi diriku untuk menjadikan dunia ini sebagai tujuan atas arti hidupku. Subhanallah, sungguh betapa beruntungnya diri ini bisa mengenal-Mu ya Rabb.

Hingga akhirnya saat diriku mulai setulus hati dan sekuat tenaga untuk berusaha membalas Cinta-Mu, kuingin kudapat menjadikan Cinta ini sebagai Cinta yang tertinggi yang kumiliki, Cinta yang membuatku untuk senantiasa menyambut seruan-Mu dengan penuh suka cita, Cinta yang membuatku terharu dengan betapa Maha Lembut dan Sayang-nya diri-Mu padaKu hingga tiap tetes air mata ini hanya akan tumpah saat ku memuja asma-Mu karena betapa kagum-Nya diriku kepada-Mu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2011 in Islam