RSS

Pesan dan Gumaman

02 Nov

IMG_0358Aggghhh.. mahasiswa. Apalah kerjanya?

Apa? Apa yang kamu katakan? Kata si kawan, “Banyak sangatlah kerja kita, Kau tak lihat ini..Ini…

Hanya tumpukan kertas..gumamku

“Ini jurnal, yang ini laporan, yang ini makalah, yang ini….”

Hah, tak usah diteruskan, Aku tahu..

“Banyak sangatlah kerja kita..”

“Setelah tamat, apa rencanamu?” tanyaku

Lalu kudengar impian-impian diri yang luar biasa… impian diri

Siang itu.. Aku tersentak dengan kata-kata dari seorang dokter. “Saat ini.. negara kita masih kekurangan yang ini..” ujar beliau sembari melingkari kata-kata di papan tulis.

DOKTER GIGI MASYARAKAT

Aggh engkau benar dok, gumamku. Negeri ini butuh dokter gigi-dokter gigi masyarakat, menjadi seorang dokter yang mampu mengatasi permasalahan kesehatan gigi dan mulut di negeri ini secara menyeluruh.

Hari ini, banyak orang yang tak mau berpikir rumit, maunya yang mudah-mudah saja, yaa kalau bisa jangan berkeringatlah, begitu. Tentu masalah negeri ini tak sesederhana itu, meskipun dicoba untuk disederhanakan. Ibarat mau nilai bagus, tapi tak mau belajar. Mau kaya, tapi tak mau kerja. Kendati demikian, tetap saja, diterangkan hingga berbab-bab pun, semua akan mencari cara termudah dan kembali pada prinsip, selamatkan diri masing-masing.

Dalam hiruk-pikuk klinik, dokter, koas, dan pasien hilir mudik, berlalu lalang, kembali  Aku terngiang dengan perkataan seorang dokter, “Kalian ini.. jangan bekerja untuk HOW TO PASS saja”. Ya.. how to pass, yang mudah-mudah saja, tak pakai ruwet, tak pakai ribet, udah.. tamat deh.  Namun, tak sedikit dari yang mendengarkannya hanya sekadar how to pass juga.

Masih di klinik yang sama, kala itu Aku sedang merawat seorang pasien dengan gigi berlubang. Usai membur gigi si pasien, sebelum memasukkan bahan tambalan, kutunjukkan hasilnya kepada seorang dokter.

“Hmm, lihat bagian ini!” ujarnya sambil mengarahkan kaca mulut padaku.

“Yang ini dibur saja sekalian, ini juga karies (lubang gigi).”

Tapi itu kan bukan bagian utamanya, ngapain capek-capek tambal yang itu juga, gumamku.

“Nanti ini bakal ditanya sama Allah” kata sang dokter.

Lagi-lagi Aku tersentak, kata-kata beliau meruntuhkan keinginanku untuk menambal gigi hanya sekadar how too pass saja.

Kata yang lain, “Makanya jangan tunjukkan sama dokter yang itu.”

Tidak, beliau benar. Malah Aku berterima kasih pada beliau karena telah diingatkan, gumamku.

Masih ada empat klinik lagi yang harus dijalani. Ledakan-ledakan pesan apa lagi yang akan kutemui nanti? Wallahu a’lam, tapi Aku menunggunya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 2, 2013 in Cerita kecil, Perkuliahan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: