RSS

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

13 Okt

ukhuwah1Karena bersaudara di jalan Allah telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka “kerugian apa pun” yang diderita saudara-saudara dalam iman dan daa’wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jam’I, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. “Dan jika kamu berpaling, maka Allah akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Q.S. 47:38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da’wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yag berbenturan dengan jadwal da’wah atau oleh urusan yang merugikan da’wah. Mengapa? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da’wah dan menepis kepentingan lainnya. Ini jauh dari pikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggung jawab keluarga.
Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman, menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. “Bgitu harus berangkat (berdakwah-red), mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta”, tuturnya. Dia tidak melepas sang suami, tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah telah mengelupas.
Kala itu, jarang da’i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perang pun mulai berkecamuk di hati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhusyukan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. “Ummi au shalati” (Ibuku atau sholatku?)” Sekarang yang membingungkan justru “Zauji au da’wati” (isteriku atau da’wahku?).
Dia mulai gundah, kalau berangkat isteri selebihnya rakyat adalah rakyat. Yang nasib mereka cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam di atas 24.00. Dia katakan pada istrinya: “Kita ini dipertemukan Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah. Apa pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah”.
Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal di rumah? Sekarang ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah da’wah.
Lain lagi kisah sepadang suami istri yang juga dari masyarakat da’wah. Kisahya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da’wah. Perang batin terjadi dan malam itu ia absen dalam liqo’. Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-nangis, ia sudah kalah oleh penyakit “syaghalatna amwaluna waahluna”: kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga” (Q.S. 48:11). Ia berjanji pada dirinya: “Meskipun terjadi hujan, petir, dan gempa. Saya harus hadir dalam tugas-tugas da’wah.”
Pada giliran berangkat, keesokan harinya ada ketukan kecil di pintu, ternyata mertua datang. “Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?”. Maka, ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai menangis-nangis lagi.
Saat tugas da’wah besok, apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang, dan lain-lain pokoknya saya harus datang. Dan, begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan ia pun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dakwah. Sampai hari ini pun saya melihat jeis “akh” tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik halaqah atau pun musyawarah, yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, “in lam takun bihim falan takuna bighoirihim”
-K.H. Rahmat Abdullah-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2013 in Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: