RSS

Di Titik Lemah Ujian Datang

13 Okt

1_pink_20snow_20flowerAkhirnya, dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat Q.S. Al A’raf ayat 163: “ Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada rumah rawat.” Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah datang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka.” Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait ujian.

Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keihlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit waktuna disbanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut diangga sekolah gila. Selebihnya dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian.

Seorang masyaikh da’wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak rekannya untuk mulai aktif berda’wah. Diajak menolak, dengan alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda’wah, da’wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu,. “Ternyata kayanya kaya begitu saja”, ujar Syaih tersebut.

Ternyata kita temukan kuncinya, “Demikanlah kami jui mereka karena sebab kefasikan mereka.” Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang.

Pada hari Jumat jam 11.50 datang pelanggan ke took. Pada saat-saat jam da’wah datang, orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau mereka bisa melewatina dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan menyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membeiarkannya berlalu. Kita harus menerobossegala hal yang pahit seperti anak kecil yang eblajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.

-K.H. Rahmat Abdullah-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2013 in Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: