RSS

Jujur itu nguntungin?

09 Jul

Sering kali kita menuntut kesantunan dari para petinggi yang duduk di atas sana. Bagaimana dengan diri Kita sendiri? Apakah Kita sudah santun? Bagaimana kategori santun di mata Kita? Hmm.. mungkin makna santun di sini sudah mengalami pergeseran ya.. Santun itu berarti  mengikuti apa yang kebanyakan teman-teman lakukan, misalnya, datang telat ke kampus, rambut gondrong, nongkrong di lapau, ngirup asep tembakau, beli putau… ehhh salah ya? Astaghfirullah. Na’udzubillahiminzalik. Amit-amit dah. Kalo kayak gini caranya bakalan hancur ini bangsa dan Negara. Mendingan kita semua pade bertobat dah, sebelum di akhirat nanti kita dibabat.

Nah, kali ini kesantunan yang akan kita bicarakan di sini adalah masalah kejujuran. Kita sering melihat dan menyaksikan bahwa ada banyak orang yang menuntut kejujuran dan kebersihan dari pemerintah dan saya rasa mungkin Kita adalah salah satu orang yang pernah atau mungkin setidaknya ingin menuntut kejujuran itu. Namun, sebelum Kita menuntut kejujuran dan kebersihan orang lain, sudah sepatutnya Kita bertanya kepada diri Kita sendiri, “Sudah seberapa jujurkah diri saya?”

Lantas, apa makna kejujuran bagi Kita, khususnya para mahasiswa yang umumnya seringkali menuntut kejujuran. Apakah jujur yang Kita maksudkan adalah dengan cara mencontek ketika ujian, atau menandatangani absen teman yang tidak hadir, atau membuat surat sakit sendiri sebagai izin tidak mengikuti perkuliahan, atau apa? Membohongi dosen? Itukah kejujuran? Lantas dengan bermental seperti itukah kiranya kita berani dengan getolnya untuk berdemo di jalan-jalan untuk menuntut tegaknya kejujuran? Berdemo boleh saja, toh pada hakikatnya, demonstrasi merupakan salah satu sarana untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, Mungkin hal-hal kecil ini -tidak mencontek saat ujian, berbohong kepada dosen, dkk- sepele memang di mata kita –saya harap kita semua tidak menyepelekannya- tapi saya yakin ini akan berdampak besar pada masa depan bangsa ini. Wallahua’lam. –loh kok jadi ngomongin demo-

Kembali kepada topik kita semula, So, kenapa sih kita mesti jujur? Entahlah –loh- semua pilihan ada pada Anda yang membaca, tapi menurut saya selama hampir 20 tahun mengarungi hidup ini –kayak udah tuiiiir aja- saya merasakan bahwa dengan jujur, hidup akan menjadi lebih mudah. Percaya? Mari kita renungkan –jika Anda berkenan- ‘statement’ yang baru saja saya lontarkan ke hadapan Anda. Misal, jujur pada saat mengerjakan ujian, dengan jujur, tenaga dan waktu kita tidak akan habis sia-sia hanya untuk menoleh ke kanan-kiri, depan-belakang, dan tiba-tiba teeeeeeet, bel tanda mengerjakan soal ujian sudah berakhir. Alhasil, ok mungkin bagi yang sempat curi-curi jawaban merasa dirinya beruntung, tapi kan belum pasti juga jawaban yang dicuri itu benar, malah mungkin yang bertanya dengan yang ditanya sama-sama bingung jawaban yang benar yang mana. Nah, itu bagi yang sempat curi-curi, bagi yang sudah toleh depan-belakang, kiri-kanan, tapi masih tidak mendapatkan juga jawaban dari soal ujian itu, mungkin akan merasa itu bahwa dirinya sedang mendapat kesialan yang besar pada hari itu. Bandingkan jika kondisinya seperti ini; saat mengerjakan ujian kita tidak melakukan olahraga (baca: tolah-toleh), berdasarkan pengalaman saya, saya merasakan adanya ketenangan di dalam diri dan pikiran saya, seolah saya merasakan dunia saat ujian itu hanya milik kami berdua, eh maksudnya saya dan Yang Maha Berilmu alias Sang Pencipta saya, alias Allah SWT. Sebego-bego dan sepelupa-lupanya saya tentang materi ujian yang diujikan pada hari itu, alhamdulillah selalu saja ada semacam gerakan hati yang mengarahkan saya untuk memilih jawaban di antara pilihan jawaban ujian tersebut, dan ketika di cek jawabannya, saya terheran-heran dibuatnya, ‘loh benar itu toh jawabannya?’, kalau kayak gini apa Anda ga makin jatuh cinte nih sama Allah? Tapi, janji dulu ya sama Allah, “Ya Allah Aku janji insyaAllah pada ujian ini Aku akan berusaha mengerjakan ujian dengan jujur karena itu Aku mohon bantuan dan arahan-Mu dalam setiap memilih jawaban ujian ini ya Allah, A..mi..n”

Itu baru jujur dalam mengerjakan ujian, sodara-sodara, kita belum membahas yang lain nih. Yang lain ntar kapan-kapan aja ya, insyaAllah di lain waktu kita bahas lagi pembicaraan tentang J.U.J.U.R. ini

wassalam.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 9, 2011 in Cerita kecil, Islam

 

2 responses to “Jujur itu nguntungin?

  1. wyd

    Agustus 28, 2011 at 10:57 pm

    dengan jujur hidup menjadi lebih mudah? masa’ sih?
    rasanya ga juga. malah konsekuensi sebuah kejujuran bisa jadi sangat berat. sisi positifnya, menjalani hidup terasa tak berbeban karena kita bebas melangkahkan kaki, bebas berkomentar, bebas tertawa, bahkan bebas menangis di depan siapa pun.
    keep being honest….🙂

     
    • R_H_

      September 3, 2011 at 11:31 am

      Thank you, Ma’am🙂, I’ll try my best

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: