RSS

BLOK 8-PEMICU 1

20 Mar

BAB I PENDAHULUAN I.

I.Latar Belakang

Sistem saraf merupakan satu dari dua sistem kontrol utama tubuh, selain sistem endokrin. Sistem saraf tersusun atas susunan saraf pusat (SSP) yang terdiri dari otak dan korda dorsalis, dan sistem saraf tepi (SST) / sistem saraf perifer, yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP dan bagian tubuh lain (perifer). Dengan adanya sistem saraf, manusia dapat merasakan berbagai stimulus yang datang kepada dirinya, misalnya berupa panas, tekanan, rasa nyeri, dan sebagainya. Mekanisme ini sangat diperlukan oleh manusia agar manusia dapat berusaha untuk mempertahankan dirinya dari hal-hal yang dianggap dapat membahayakan tubuhnya. Misalnya, rasa nyeri yang ditimbulkan akibat sakit gigi menyebabkan seseorang akan berusaha untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut, misalnya dengan cara memakan obat analgesik atau pergi ke dokter gigi. Dalam praktiknya sehubungan dengan sistem saraf tubuh ini, para dokter gigi sangat sering menggunakan obat-obat anestesi maupun analgesik untuk memberikan rasa nyaman (menghilangkan rasa sakit ataupun nyeri) kepada pasiennya terutama saat melakukan pencabutan gigi. Sebelum dilakukan pencabutan, biasanya dokter gigi akan menginjeksikan obat anestesi dan untuk perawatan sesudahnya diberikan obat anelgesik. Kedua jenis obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi sistem saraf pasien. Dengan menginjeksikan obat anestesi, daerah tubuh yang diinjeksikan tersebut akan mengalami kebas. Kebas yang dialami pasien untuk tindakan operasi yang singkat seperti pada pencabutan gigi biasanya akan hilang setelah beberapa jam, namun pada kasus yang jarang terjadi, kebas dapat pula hilang setelah beberapa hari, minggu, atau bahkan beberapa bulan sesudah injeksi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dalam kasus yang akan dibahas dalam laporan ini, masalah tersebut akan dibahas secara gamblang yakni dengan membahas sistem saraf dari segi anatomi, histologi, fisika, fisiologi, maupun dari segi farmakologi obat yang digunakan sesuai dengan learning issues sebagai berikut: 1. Anatomi:

a. Anatomi sistem saraf perifer

b. Anatomi persarafan pada wajah

2. Histologi:

a. Struktur histologi sel saraf perifer

b. Proses regenerasi sel saraf

3. Fisika: Mekanisme penghantaran impuls pada sel saraf

4. Fisiologi:

a. Fungsi sistem saraf perifer

b. Mekanisme sensorik secara umum

c. Mekanisme nyeri d. Patofisiologi kebas (numbness)

5. Farmakologi:

a. Cara kerja dan jenis obat anestesi umum dan lokal (yang digunakan pada Kedokteran Gigi)

b. Jenis obat analgesik

Adapun kasus yang akan dibahas dalam laporan ini dapat dilihat pada bagian deskripsi topik berikut.

I.II. Deskripsi Topik

R, seorang lelaki berusia 26 tahun, datang ke dokter gigi dengan keluhan gigi geraham terasa sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan umum, ekstra oral dan intra oral, didapati gigi molar 3 kanan bawah berada pada posisi miring ke mesial dan sebahagian mahkota terlihat dalam rongga mulut. Kemudian dilakukan pemeriksaan foto rontgen, gigi tersebut posisinya tidak normal sehingga harus dicabut. Setelah pasien menyetujuinya, maka dilakukan tindakan anestesi untuk pencabutan. Injeksi obat dilakukan pada daerah belakang gigi molar 3 dekat trigonum retomolar. Selesai tindakan pencabutan, R pulang dan diminta untuk meminum obat analgesic yang diresepkan. Keesokan harinya, R kembali ke dokter gigi dengan keluhan rahang kanan bawahnya masih terasa kebas.

BAB II PEMBAHASAN

II.I TERMINOLOGI

Pada wacana kasus yang terdapat pada bagian deskripsi topik, terdapat beberapa istilah yang kedokteran yang mungkin masih belum jelas dan perlu diketahui artinya agar kita dapat memahami kasus tersebut seutuhnya. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Intra oral : daerah di sekitar bagian dalam oral yang secara langsung dipengaruhi oleh kesehatan oral, seperti gejala periodontitis, muccobucal fold, dan sebagainya

2. Ekstra oral : daerah di luar oral yang dipengaruhi oleh baik buruknya kesehatan oral secara tidak langsung, seperti kesimetrisan wajah, ada atau tidaknya tanda-tanda radang, trismus, fluktuasi, dan sebagainya

3. Mesial : lebih dekat dengan pusat arkus dentalis

4. Anestesi : hilangnya sensasi nyeri (rasa sakit) yang disertai maupun yang tidak disertai hilangnya kesadaran

5. Injeksi : tindakan memaksakan cairan ke dalam bagian, misalnya ke dalam jaringan subkutan, percabangan vascular, atau organ

6. Trigonum retromolar : daerah segitiga pada posterior gigi molar tiga mandibular

7. Analgesik : bahan yang mengurangi nyeri tanpa menyebabkan hilangnya kesadaran

8. Kebas / baal : ketidakmampuan tubuh untuk merasakan rangsangan dari luar

II.II MASALAH

Masalah yang terdapat di dalam kasus adalah:

1. Gigi geraham R, seorang pria berusia 26 tahun, terasa sakit;

2. Gigi molar III kanan bawah miring ke mesial;

3. Sebagian mahkota terlihat dalam rongga mulut.

4. Hasil pemeriksaan foto rontgen posisi gigi tidak normal sehingga harus dicabut.

5. Dilakukan pencabutan gigi dengan anastesi sebelumnya pada bagian belakang molar III dekat trigonum retromolar.

6. Setelah pencabutan diresepkan analgesic, namun keesokan harinya, rahang kanan bawah masih kebas.

II.III SOLUSI

II.III.I Anatomi:

II.III.I.I Anatomi sistem saraf perifer

Sistem saraf perifer terdiri dari jaringan saraf yang berda di bagian luar otak dan medulla spinalis. Sistem ini mencakup saraf cranial yang berasal dari otak; saraf spinal, yang berasal dari medulla spinalis; dan ganglia serta reseptor sensorik yang berhubungan.

II.III.I.I.I Saraf cranial

Terdiri atas dua belas pasang, yakni: 1. Saraf olfaktori (CN I) 2. Saraf optik (CN II) 3. Saraf okulomotor (CN III) 4. Saraf troklear (CN IV) 5. Saraf trigeminal (CN V) 6. Saraf abdusen (CN VI) 7. Saraf fasial (CN VII) 8. Saraf vestibulokoklear (CN VIII) 9. Saraf glosofaringeal (CN IX) 10. Saraf vagus (CN X) 11. Saraf aksesori spinal (CN XI) 12. Saraf hipoglosal (CN XII)

II.III.I.I.I Saraf spinal Terdiri atas 31 pasang saraf, yakni: 1. Saraf serviks; delapan pasang, C1 sampai C8 2. Saraf toraks; 12 pasang, T1 sampai T12 3. Saraf lumbal; lima pasang, L1 sampai L5 4. Saraf koksiks; satu pasang

II.III.I.II Anatomi persarafan pada wajah

Berdasarkan pembagian susunan saraf perifer di atas, maka dapat kita lihat bahwa persarafan yang ada pada wajah terdiri atas: 1. Saraf V (Saraf Trigerminal) • Merupakan saraf cranial terbesar • Terdiri atas gabungan saraf motorik dan sensorik (mixed), tetapi sebagian besar terdiri atas saraf sensorik • Membentuk saraf sensorik utama pada wajah, rongga nasal, dan rongga oral • Neuron motorik berasal dari pons dan menginervasi otot mastika kecuali otot buksinator • Badan sel neuron sensorik terletak dalam ganglia trigeminal (semilunar). Serabut bercabang ke arah distal menjadi tiga divisi, yakni: 1. Cabang optalmik membawa informasi dari kelopak mata, bola mata, kelenjar air mata, rongga nasal, kulit dahi, seta kepala 2. Cabang maksilar membawa informasi dari kulit wajah, rongga oral (gigi atas, gusi, dan bibir) dan langit-langit mulut (palatum) 3. Cabang mandibuar membawa informasi dari gigi bawah, gusi, bibir, kulit rahang, dan area temporal kulit kepala. Radiks motorik saraf trigeminal menjalar bersama cabang mandibular 2. Saraf VII (Saraf Facial) • Terdiri atas gabungan saraf motorik dan saraf sensorik • Neuron motorik terletak dalam nuclei pons. Neuron ini menginervasi otot ekspresi wajah, termasuk kelenjar air mata dan kelenjar saliva • Neuron sensorik membawa informasi dari resesptor pengecap pada dua per tiga bagian anterior lidah 3. Saraf IX (Saraf Glossopharyngeal) • Terdiri atas gabungan saraf motorik dan saraf sensorik • Neuron motorik berawal dari medulla dan menginervasi otot untuk berbicara dan menelan serta kelenjar saliva parotid • Neuron sensorik membawa informasi yang berkaitan dengan rasa dari sepertiga bagian posterior lidah dan sensasi umum dari faring dan laring; neuron ini juga membawa informasi mengenai tekanan darah dari reseptor sensorik dalam pembuluh darah tertentu

II.III.II Histologi:

II.III.II.I Struktur histologi sel saraf perifer

Terdiri atas: 1. Nerve fiber (serabut saraf) • Terdiri atas akson yang dibungkus selubung khusus yang berasal dari ektodermal. • Gabungan serabut saraf membentuk traktus-traktus (jaras) saraf di otak, medulla spinalis, dan saraf tepi • Serabut saraf tepi diselubungi oleh sel Schwann • Terdiri atas: 1. Serabut bermielin, pada serabut bermielin si susunan saraf tepi, plasmalema sel Schwann mengitari dan menyelubungi akson 2. Serabut tak bermielin, pada susunan saraf tepi, semua akson tak bermielin dibungkus dari celah-celah dari sel Schwann 2. Ganglia • Merupakan struktur lonjong yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang ditunjang oleh jaringan ikat • Bekerja sebagai stasiun relay untuk menghantarkan impuls saraf (satu saraf masuk dan saraf lain keluar dari setiap ganglion) • Terdiri atas: 1. Ganglia sensorik  Menerima impuls aferen yang menuju SSP  Ada dua jenis, yakni: 1. Ganglia kranialis (berhubungan dengan saraf cranial) 2. Ganglia spinalis (berhubugan dengan radiks dorsal saraf spinal), memiliki badan sel neuron yang besar dengan badan Nissl halus yang dikelilingi banyak sel glia kecil (satelit) 2. Ganglia otonom  Tampak sebagai pelebaran bulat pada saraf otonom  Memiliki neuron multipolar  Memiliki perikarion dengan badan Nissl halus  Selapis sel satelit seringkali membungkus neuron ganglia otonom 3. Nerve ending (ujung saraf)

II.III.II.II Proses regenerasi sel saraf

Kematian sel saraf terbatas pada perikarion serta cabang-cabangnya. Berbeda dengan sel saraf, neuroglial SSP – dan sel Schwann serta sel satelit ganglion di sistem saraf tepi – dapat membelah melalui mitosis. Celah-celah di susunan saraf pusat yang ditinggalkan oleh sel-sel saraf akibat penyakit atau cedera, akan ditempati oleh neuroglia. Oleh karena saraf tersebar luas di seluruh tubuh, saraf sering mengalami cedera. Bila sebuah akson saraf terputus, maka akan terjadi perubahan degeneratif yang diikuti dengan fase pemulihan. Cedera pada akson dapat menyebabkan perubahan dalam perikarion, misalnya berupa kromatolisis (larutnya substansi Nissl) Segmen proksimal akson dekat luka akan berdegenerasi untuk sebagian kecil akson, namun pertumbuhan segera dimulai setelah debris dibersihkan oleh makrofag yang menghasilkan IL-1 yang menstimulasi sel Schwann untuk menyekresi zat yang membantu pertumbuhan saraf. Jadi, bila kita lihat di sini, umumnya hanya saraf periferlah yang dapat beregenerasi karena ia memiliki sel Schwan yang dapat membantunya dalam regenerasi sedangkan pada susunan saraf pusat tidak terdapat sel Schwann sehingga sulit untuk regenerasi. Selain itu regenerasi juga tidak dapat terjadi jika soma dan dendrit mengalami kerusakan, namun jika nerve fiber-nya yang rusak regenerasi masih dapat terjadi.

II.III.III Fisika:

Mekanisme penghantaran impuls pada sel saraf • Penghantaran impuls terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar (kutub +) dan bagian dalam sel (kutub -). • Kecepatan perjalanan gelombang tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin. • Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). • Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik.

II.III.IV Fisiologi:

II.III.IV.I Fungsi sistem saraf perifer

Oleh karena saraf perifer terbagi menjadi dua jenis, yakni saraf cranial dan saraf spinal, maka fungsi dari saraf perifer dapat kita kelompokkan berdasarkan jenisnya tersebut. FUNGSI SARAF CRANIAL NO NAMA FUNGSI 1. OLFACTORY INDRA PENCIUMAN 2. OPTIC PENGLIHATAN 3. OCCULOMOTOR GERAKAN MATA, MENGONTROL PUPIL, LENSA, DAN AIRMATA 4. TROCHLEAR GERAKAN MATA 5. TRIGEMINAL SENSASI DI BAGIAN MUKA DAB MENGUNYAH 6. ABDUCENTS GERAKAN MATA 7. FACIAL OTOT-OTOT MUKA, KELENJAR AIR LIUR DAN RASA (LIDAH) 8. AUDITORY CABANG AKUSTIK: URLTUKPENDENGARAN S CABANG VESTIBULAR: UNTUK KE$EIMBANGAN 9. GLOSSOPHARYNGEAL OTOT-OTOT TENGGOROKAN, KELENJAR AIR LIUR, DAN RASA (LIDAH) 10. VAGUS KONTROL PARASIMPATETIK DARI ORGAN-ORGAN INTERNAL, SENSASI DARI ORGAN-ORGAN INTERNAL, DAN RASA (LIDAH) 11. SPINAL ACCESSORY OTOT-OTOT K.EPALADAN LEHER 12. HYPOGLOSSAL OTOT-OTOT LIDAH DAN LEHER FUNGSI SARAF SPINAL Tiga puluh satu saraf spinal berawal dari korda melalui radiks dorsal (posterior) dan ventral (anterior). Pada bagian distal radiks dorsal ganglion, dua radiks bergabung membentuk satu saraf spinal. Semua saraf tersebut adalah saraf gabungan (motorik dan sensorik), membawa informasi ke korda melalui neuron aferen dan meninggalkan korda melalui neuron eferen. Setelah saraf spinal meninggalkan korda melalui foramen interveterbral, saraf kemudian bercabang menjadi empat divisi • Cabang meningeal kecil masuk kembali ke medulla spinalis melalui foramen sama yang digunakan saraf untuk keluar dan mempersarafi meninges, pembuluh darah medulla spinalis, dan ligamen intervebral • Ramus dorsal (posterior) terdiri dari serabut yang menyebar ke arah posterior untuk mempersarafi otot dan kulit pada bagian belakang kepala, leher, dan pada trunkus di regia saraf spinal • Cabang ventral (anterior) terdiri atas serabut yang mensuplai bagian anterior dan lateral pada trunkus dan anggota gerak • Cabang visceral adalah bagian dari SSO. Cabang ini memiliki ramus komunikasi putih dan ramus komunikans abu-abu yang membentuk hubungan antara medulla spinalis dan ganglia pada trunkus simpatis SSO Pleksus Merupakan jarring-jaring serabut saraf yang terbentuk dari ramus ventral seluruh saraf spinal, kecuali T1 dan T 11, yang merupakan awal saraf interkostal • Pleksus serviks Terbentuk dari ramus ventral keempat saraf serviks pertama – C1, C2, C3, C4 – dan sebagian C5. Saraf ini menginervasi otot leher, kulit kepala, serta dada. • Pleksus brakial Terbentuk dari ramus ventral saraf serviks C5, C6, C7, C8, dan saraf toraks pertama T, dengan melibatkan C4 DAN T2. Saraf dari pleksus brakial mensuplai lengan atas dan beberapa otot pada leher dan bahu • Pleksus lumbal Terbentuk dari ramus saraf lumbal L1, L2, L3, DAN L4 dengan bantuan T12. Saraf dari pleksus ini menginervasi kulit dan otot dinding abdomen, paha, dan genitalia eksternal. • Pleksus sacral Terbentuk dari ramus ventral saraf sacral S1, S2, dan S3, serta kontribusi dariL4, L5, dan S4. Saraf dari pleksus ini menginervasi anggota gerak bawah, bokong, dan regial perineal. • Pleksus koksiks Terbentuk dari ramus ventral S5 dan saraf spinal koksiks, dengan kontribusi dar ramus S4. Pleksus ini merupakan awal saraf koksiks yang mensuplai regia koksiks. II.III.IV.II Mekanisme sensorik secara umum Berkaitan dengan sistem pompa ion di dalam tubuh, baik berupa ion Na, K, dan anion yang lainnya yang mana hal ini mengakibatkan terjadinya potensial membran dengan mekanisme sebagai berikut: Stimulus  kanal ion terbuka ion pindah (Na+ ke dalam, K+ keluar)  perubahan potensial membran, berupa 3 event (depolarisasi, repolarisasi, dan hiperpolarisasi)  fluktuasi (perubahan dari nilai normal) Fluktuasi, yang menjadi akhir dari mekanisme sensorik ini terbagi atas dua jenis, yakni: • Graded potential • Terjadi sesaat, perubahan lokal potential membran • Intensitas berkurang sesuai dengan jarak yang ditempuhnya • Besarnya potensial bergantung kekuatan stimulus yang diberikan • Graded potential yang cukup besar (mencapai threshold/ambang) dapat menginisiasi action potential • Arus yang terjadi segera menghilang akibat kebocoran membran plasma. • Hanya dapat berjalan pada jarak yang dekat • Action potential • Memungkinkan komunikasi jarak jauh • Penjalaran satu arah dari asal stimulasi • Memiliki komponen depolarisasi, repolarisasi dan undershoot (hyperpolarisasi) • Depolarisasi  -70 mV ke 30 mV dan terjadi akibat adanya influx Na+ • Repolarisasi  +30 mV ke -70 mV dan terjadi akibat adanya efflux K+ • Undershoot (hyperpolarisasi) -70 mV ke -90mV Pada kasus telah terjadi action potential yang disebabkan oleh adanya impuls (berupa nyeri) akibat pencabutan gigi. Hal ini ditandai dengan terangsangnya reseptor nyeri (nociceptor) yang mengakibatkan adanya transmit impuls melewati saraf sensorik. Semakin kuat stimulusnya, maka semakin banyak pula action potential yang terjadi sehingga action potential yang terjadi pada pasien banyak.

II.III.IV.III Mekanisme nyeri

Impuls nyeri yang berasal dari nosiseptor disalurkan ke SSP melalui salah satu dari dua jenis aferen. Sinyal yang berasal dari nosiseptor mekanis disalurkan melaui serat A delta (jalur nyeri cepat). Serat aferen primer bersinaps dengan antarneuron ordo kedua di taduk dorsal korda spinalis. Salah satu neurotransmitter yang dikeluarkan dari ujung-ujung aferen nyeri ini adalah substansi P. Jalur nyeri ascendens memiliki tujuan di korteks somatosensorik, talamus, dan farmatio retikularis

II.III.IV.IV Patofisiologi kebas (numbness)

Serat saraf yang mempersarafi rahang bawah dapat berada sangat dekat dengan akar gigi molar bawah. Kondisi seperti ini hanya akan didapati pada orang-orang tertentu saja sehingga kejadian seperti ini jarang ditemui. Akibat lokasi serat saraf yang sangat dekat dengan akar gigi ini, pada waktu dilakukan pencabutan terhadap gigi tersebut, ujung-ujung saraf tersebut menjadi trauma dan menjadi cedera dan inflamasi. Saraf-saraf yang telah mengalami cedera ataupun inflamasi akan tidak mampu lagi untuk menghantarkan impuls nyeri yang terjadi. Tidak sampainya impuls nyeri ini ke reseptornya mengakibatkan manusia tersebut tidak dapat merasakan nyeri, hal inilah yang kita sebut dengan kebas. Namun, normalnya kebas yang terjadi tidak berlangsung lama oleh karena adanya regenerasi dari susunan saraf perifer.

II.III.V Farmakologi:

II.III.V.I Cara kerja dan jenis obat anestesi umum dan lokal (yang digunakan pada Kedokteran Gigi)

Mekanisme kerja anestesi local:

• yakni dengan menghambat channel natrium sehingga channel ini menjadi tertutup akibatnya perjalanan rasa nyeri dari rangsang nyeri ke otak akan dihambat

• walaupun ada trauma ataupun mediator-mediator di lokasi pencabutan tersebut, tetapi olej akrena perambatan nyeri dihambat, akibatnya pasien tersebut tidak merasa sakit

• digunakan untuk operasi yang membutuhkan waktu singkat sebab efek samping yang ditimbulkannya lebih sedikit dan masa kerjanya lebih cepat jika dibandingkan dengan anestesi umum

. Mekanisme kerja anestesi umum • contoh anestesi umum: halotan

• bekerja dengan menekan SSP, artinya anestesi umum ini nantinya juga akan menekan semua sistem, termasuk sistem kesadaran.

• Jika pasien sudah tidak sadar, maka ia tidak akan bisa merasa lagi.

• Biasanya pada tindakan-tindakan operatif yang besar yang menimbulkan waktu yang lebih lama

II.III.V.II Jenis obat analgesic

Pada pemberian NSAID, jika terjadi trauma enzim fosfolipase akan mensintesa asam arachidonat, asam arachidonat yang dihasilkan akan mensintesa prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase (COX). NSAID bekerja dengan mengganggu kerja enzim COX ini untuk mensintesa prostaglandin yang mana prostaglandin yang dikeluarkan akibat COX ini dapat bermacam-macam, untuk merasakan nyeri, biasanya diakibatkan oleh PGE 2. Semakin menghambat COX-2, maka akan semakin menghambat terjadinya peradangan, walaupun COX-1 sebenarnya jga bisa, sifat ini dinamakan sifat selektivitas. Prinsip NSAID: NSAID bekerja dengan cara menghambat COX dalam menghasilkan prostaglandin (dalam hal ini PGE 2). Adapun mekanisme kerja NSAID, misalnya OPIOID dalam menghilangkan rasa nyeri adalah dengan cara menduduki reseptor mu, kappa , dan delta. Didudukinya reseptor ini dapat menimbulkan efek sedasi, euphoria, dan akan mengubah persepsi. Dengan didudukinya reseptor ini pula, maka walaupun ada sumber nyeri di lokasi pencabutan, pasien akan merasa nyaman sehingga rasa nyeri pasien berkurang atau bahkan hilang.

BAB III PENUTUP

SIMPULAN:

• Sistem saraf terbagi dua, yakni Susunan Saraf Pusat (SSP) dan Susunan Saraf Perifer.

• Susunan saraf yang menyusun perssarafan pada wajah dan sekitarnya termasuk gigi adalah susunan saraf perifer

• Kerja sistem saraf dapat dipengaruhi oleh obat anestesi dan analgesik

• Anestesi yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi adalah anestesi lokal

• Anestesi dapat menimbulkan terjadinya kebas

• Kebas juga dapat terjadi akibat cederanya saraf

DAFTAR PUSTAKA

1. W.B. Saunders Company. Kamus saku kedokteran Dorland. Edisi 25. Alih bahasa. dr. Poppy Kumala, dr. Sugiarto Komala, dr. Alexander H. Santoso, dr. Johannes Rubijanto Sulaiman, dr. Yuliasari Rienita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1998.

2. Departemen farmakologi dan terapeutik universitas Indonesia. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2009: 122-38; 259-72; 230-46.

3. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 2. Alih bahasa. dr. Brahm U. Pendit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2001: 149-93.

4. Gabriel JF. Fisika kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996: 201-11.

5. Junqueira LC, Carneiro J. Histologi dasar teks dan atlas. Edisi 10. Alih bahasa: dr. Jan Tambayong. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007: 153-80.

6. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Alih bahasa. James Veldman. Jakarta: Penerbit BUku Kedokteran EGC, 2004: 166-82.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2011 in Perkuliahan

 

2 responses to “BLOK 8-PEMICU 1

  1. amaliaihsanihs

    April 4, 2012 at 11:06 pm

    wah🙂 sngt membantu .mksi🙂

     
  2. R_H_

    April 5, 2012 at 3:36 pm

    sama2 Ame😉 tapi afwan tulisannya berantakan😛

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: