RSS

Tafsir An-Naba’: Kepastian datangnya hari akhir

05 Sep

1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

2. Tentang berita besar

3. Yang mereka perselisihkan

4. Tidak! Kelak mereka akan mengetahui

5. Kemudian (sekali lagi) tidak! Kelak mereka pasti akan mengetahui

Dalam surat ini, Allah SWT menegur orang-orang yang belum masuk Islam karena mereka saling bertanya-tanya tentang suatu berita besar yakni mengenai kerasulan Rasulullah SAW dan berita yang hendak disampaikan oleh beliau yakini tentang adanya hari kiamat. Orang-orang pada saat itu saling berselisih dan bersalah-salahan tentang berita tersebut, namun dijelaskan dalam surat ini bahwa mereka kelak akan mengetahui tentang kebenaran akan berita tersebut dan bahkan mereka akan menyaksikan hari kiamat itu secara langsung sehingga pupuslah keraguan mereka tentangnya.

6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?

7. Dan gunung-gunung sebagai pasak?

8. Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan?

9. Dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat?

10. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian?

11. Dan Kami jadikan siang untuk kehidupan?

Dalam ayat-ayat berikutnya, Allah SWT mengingatkan orang-orang tadi akan betapa besar kekuasaan-Nya dengan maksud agar mereka mengesakan Allah SWT. Untuk itu, Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka. Di antara kekuasaan Allah yang disebutkan di dalam surat ini adalah bahwa Allah telah menciptakan bumi sebagai hamparan, artinya bumi merupakan tempat kita berpijak, sebagai alas (hamparan) bagi manusia dalam beraktivitas sebagai seorang khalifah yang bertugas untuk beribadah kepada Allah dan mengelola bumi beserta isinya sebab tidaklah semua yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini sia-sia. Tanda-tanda kekuasaan Allah berikutnya adalah bahwa Allah telah menciptakan gunung-gunung sebagai pasak, artinya penciptaan gunung-gunung di bumi ini bertujuan untuk mengkukuhkan bumi agar tidak goyang akibat pergerakan material ataupun logam-logam yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya, disebutkan bahwa Allah menjadikan kita berpasang-pasangan, maksudnya laki-laki dan perempuan agar saling merasa tenttram, tolong-menolong, dan memelihara keturunan demi kebahagiaan hidup. Allah juga telah menjadikan tidur untuk beristirahat. Tentulah hal ini tidak bisa kita pungkiri bahwa dengan adanya tidur, tubuh kita akan merasa lebih segar dan siap untuk melakukan aktivitas kembali. Allah juga telah menjadikan malam sebagai pakaian, maksudnya malam itu seperti pakaian yang menutupi tubuh kita, malam dapat membuat seseorang bisa bersembunyi dari kejaran musuh dan bisa menyelamatkan dirinya dari kejahatan orang lain. Selain itu, Allah juga telah menjadikan siang untuk kehidupan, artinya kita dapat bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup kita di siang hari.

12. Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (jalur langit) yang kokoh

13. Dan Kami jadikan ‘pelita’ yang amat terang benderang

14. Dan Kami turunkan dari awan, air yang tercurah deras

15. Agar Kami tumbuhkan dengan air itu, biji-bijian dan tetumbuhan

16. Dan kebun-kebun yang lebat

Allah SWT telah membangun tujuh langit yang kokoh, matahari yang mamancarkan cahaya, dan hujan yang mana dengannya Allah tumbuhkan biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun yang berdaun lebat. Itu semua juga merupakan bentuk kebesaran dan kekuasaan Allah yang harus kita imani.

17. Sungguh, hari keputusan adalah saat yang ditetapkan

18. Yaitu hari ketika sangkakala, ditiupkan, lalu kamu datang berkelompok-kelompok

19. Dan dibukakan langit, maka jadilah ia pintu-pintu terbuka

20. Dan dijalankanlah gunung-gunung, sehingga jadilah ia fatamorgana

Pada ayat-ayat berikutnya, Allah SWT memberitahukan kepada kita mengenai gambaran singkat tenrang hari kiamat. Disebutkan pula pada surat ini bahwa hari kiamat merupakan hari keputusan, yakni hari ditetapkannya antara yang hak dan yang bathil yang mana hari itu ditandai dengan bertiupnya sangkakala, lalu manusia akan bangkit dan berkumpul di padang masyar secara berbondong-bondong atau berkelompok-kelompok. Kemudian pad ayat selanjutnya disebutkan nahwa pada hari itu pintu-pintu langit akan terbuka, hal ini serupa dengan Q.S Al-Infithar ayat 1, “Apabila langit terbelah…” dan Q.S Al-Furqan ayat 25, “… Ingatlah hari ketika langit terbelah dan mengeluarkan kabut…” Pada hari itu, tatanan bintang-bintang menjadi kacau balau hingga tak ada lagi yang disebut ‘langit’ melainkan berupa jalur-jalur atau pintu-pintu (yang semua terbuka). Tidak hanya itu, pada hari itu, gunung-gunung tidak lagi memiliki kekokohan dan kemantapan sehingga menjadi musnah laksana fatamorgana; tampak dari kejauhan, namun hilang saat didekati. Hal ini disebabkan bagian-bagian dari gunung tersebut saling terpisah, bahkan atom-atomnya tercerai-berai. itulah kiranya gambaran yang dijelaskan oleh Allah SWT mengenai kehancuran alam semesta saat hari kiamat tiba. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita hidup di dunia ini bukan untuk bermain-main atau mencari kesenangan dunia saja, tetapi kita juga harus mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat nanti karena sesungguhnya akhiratlah yang akan menjadi tempat pemberhentian terakhir kita. Wallahu a’lam.

21. Sungguh, neraka jahannam itu adalah tempai pengintaian

22. Bagi orang-orang yang melampaui batas, dan (juga) tempat kembali mereka

23. Mereka akan tinggal di dalamnya selama waktu yang amat panjang

24. Di dalamnya, mereka tidak akan merasakan kesejukan, tidak pula mendapatkan minuman

25. Selain air mendidih dan nanah

26. Sebagai pembalasan yang setimpal

27. Sesungguhnya mereka (dahulu) tidak pernah mengharapkan adanya hisab

28. Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan yang sekeras-kerasnya

29. Sedangkan segala suatunya telah Kami hitung dalam suatu catatan tertulis

30. Karena itu, rasakanlah! Kami sekali-kali takkan menambahkan bagimu selain azab!

Allah juga menjelaskan tentang ancaman dan azab bagi para penentang Rasul-Nya. Di sini Allah SWT menegaskan bahwa Jahannam menjadi pusat pengintaian guna menangkap dan menggiring orang-orang yang melampaui batas untuk menjalani siksaan. Jahannam meupakan tempat kembali di akhir perjalanan mereka dan mereka akan tinggal lama di dalamnya. Pada ayat ke-23, disebutkan kata ‘ahqooba’ berasal dari kata ‘ahqoobun’ yakni bentuk jamak dari kata ‘huqubun’ yang berarti masa delapan puluh tahun atau lebih. Biasanya kata tersebut digunakan untuk menunjukkan waktu yang sangat lama dan berkesinambungan tanpa akhir. Na’adubillahiminzaaliq. Tidak hanya itu, pada ayat ke-24 disebutkan bahwa orang-orang yang berada di dalam neraka Jahannam tersebut tidak akan merakan kesejukan dan hanya akan menerima minuman berupa nanah yang mengalir deras secara terus-menerus dari tubuh-tubuh para penghuni neraka, hal ini sesuai dengan ayat ke-25, kata ‘ghossaaqo’ yang berarti sesuatu yang tercurah dan mengalir deras. Semua itu merupakan balasan yang setimpal bagi orang-orang yang ketika di dunia tidak pernah mengharapkan adanya perhitungan dan mendustakan ayat-ayat Allah. Apakah mereka tidak tahu bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mencatat segala perbuatan mereka dalam kitab ilmu-Nya, sehingga tak ada sesuatu pun dari perbuatan mereka yang tidak diketahuinya? Betapa mengerikannya siksa neraka yang digambarkan Allah dalam surat ini, lantas mengapa orang-orang masih saja mau berbuat dosa dan tidak mau mematuhi ajaran Allah dan Rasul-Nya secara khaaffah (menyeluruh)?

31. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kemenangan

32. Kebun-kebun dan buah anggur

33. Gadis-gadis remaja yang sebaya

34. Dan gelas-gelas yang penuh berisi

35. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan sia-sia taupun kebohongan

36. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang mencukupi

37. (Yaitu) Tuhan yang memelihara langit dan bumi, serta apa saja yang di antara kedua-duanya; Yang Maha Pemurah; yang tiada hak apa pun bagi mereka mempertanyakan apa pun kepada-Nya

Pada ayat-ayat berikutnya, sebaliknya, Allah juga menjelaskan mengenai balasan bagi orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya di hari kiamat kelak, yakni mereka akan memperoleh kemenangan, tinggal di dalam surge yang di dalamnya penuh dengan kebun-kebun, buah anggur, gadis remaja yang sebaya umurnya, serta ‘alka’su’ (gelas-gelas kristal) untuk minum yang diisi penuh hingga nyaris tumpah. Di dalamnya, mereka tidak akan mendengarkan perkataan sia-sia serta kebohongan yang merupakan dua hal yang dapat menyakiti hati orang-orang yang jujur.

38. Pada hari itu, ketika Ar-Ruh dan malaikat berdiri ber-shaf-shaf, tiada berkata-kata kecuali siapa yang kepadanya diberikan izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar

Ar-Ruh dan malaikat yang merupakan makhluk ghain yang diciptakan Allah akan berdiri dan berbaris yang betapun mereka sangat dekat dengan Allah, tidak akan memiliki wewenang untuk bersyafaat bagi sesorang atau memintakan sesuatu sebab hanya Allah lah yang maha berkehendak atas segala sesuatu.

39. Itulah hari yang pasti akan datang. Maka barang siapa benar-benar menghendaki, niscaya akan menempuh jalan kembali menuju Tuhannya

Di dalam ayat ini, Allah sekali lagi menegaskan bahwa hari kiamat itu pasti akan datang. Pada hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, golongan orang-orang yang terkutuk dan sangat jauh dari Allah SWT dan tempat kembali untuk mereka adalah neraka dan tempat penyiksaan. Sedangkan yang kedua, tempat kembalinya dekat dari Allah SWT serta kedudukan-kedudukan yang dimuliakan. Oleh karena itu, jika kita memiliki keinginan yang benar-benar tulus, hendaklah kita menempuh jalan menuju Allah, yaitu dengan berbuat amal shaleh yang akan mendekatkan dan menempatkan kita dalam kedudukan-kedudukan mulia tersebut.

40. Sungguh, Kami telah member peringatan kepadamu tentang siksa yang dekat; pada hari manusia menyaksikan apa saja yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Aduhai, seandainya aku dahulu adalah tanah!”

Demikianlah Allah SWT menegaskan betapa dekatnya azab yang akan menimpa setelah kematian mereka, orang-orang yang jauh dari ajaran Allah dan Rasul-Nya. Pada saat seperti itulah, ketika orang kafir menjadi ketakutan disebabkan hebat dan seramnya pemandangan yang disaksikannya, ia akan berkata dalam keputusasaan, “Aduhai, seandainya aku dahulu adalah tanah!” Begitulah, ia akan berangan-angan seandainya ia benda mati yang tidak memiliki kehidupan karena tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Na’udzubillahiminzaaliq.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 5, 2010 in Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: