RSS

Lima belas

22 Apr

Hari ini tepat lima belas tahun yang lalu, seorang bayi mungil kecil dilahirkan dari rahim seorang ibu yang luar biasa dan mungkin saya tidak pernah membayangkan bagaimana wajah dan karakter dari bayi itu lima belas tahun kemudian. Ayah dari bayi itu begitu gembira saat melihat bayi itu muncul ke bumi karena bayinya laki-laki. Pria itu menciumi bayi yang masih bau darah itu den gan penuh kasih sayang.

Waktu pun berlalu. Saya  heran saat itu, “Mengapa bayi itu tidak muncul setelah beberapa hari kemudian?” Rupanya sang bayi kecil tadi sedang dirawat bersama ibunya, yang saya pikirkan saat itu adalah tampaknya ada ‘masalah’ dengan mereka berdua, baik si bayi maupun ibunya. Entah apa masalah yang terjadi dengan bayinya, tapi yang saya tahu hanyalah bahwa si ibu sakit setelah melahirkan bayinya. Semua orang pun jadi heboh dibuatnya. Keluarga si Ibu ini pun datang untuk menjenguk sekaligus memberikan ucapan selamat atas kelahiran putra mereka. Ada banyak makanan dan bingkisan mereka berikan kepada ibu itu dan suaminya.

Tanpa terasa, bayi itu kini terah berubah menjadi seorang anak balita yang lincah. Anak itu sedikit cengeng, tapi menggemaskan,

bahkan saya sempat terpikir saat itu bahwa anak ini lebih menggemaskan bila ia sedang menangis. Pipinya yang tembab dan kulitnya yang putih membuat saya selalu tergoda untuk mencubitnya dan saat ia mulai menangis, saya akan mencubitinya lagi karena pipinya tampak semakin tembam. Dia, adik saya satu-satunya yang sekarang sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Rasanya baru kemarin sore saya jadi anak umur lima belas tahun, eh ternyata sudah disusul sama adik saya aja. Sekarang mana mau lagi dia dicubiti dan diciumi pipinya oleh saya dan saya pun rasanya sudah tidak mau lagi untuk melakukannya.

Lima belas tahun. Kalau saya sih waktu itu sedang gencar-gencarnya menghadapi UN dan tes masuk SMA dan di usia itu pula saya diberikan pilihan yang membuat hati dan pikiran saya bimbang yakni pilih masuk SMA unggulan dengan konsekuensi saya harus tahan banting dan berani untuk menerima kekalahan kapan saja atau masuk SMA negeri yang biasa-biasa aja dengan konsekuensi hidupnya juga biasa-biasa aja, tapi tidak terlalu sulit untuk bisa menjadi ikan besar di kolam yang kecil . Saat itu saya memutuskan

untuk masuk ke SMA unggulan dengan alasan dengan mauk ke sekolah itu, motivasi saya dalam belajar akan meningkat, lagipula saya tidak mau jadi ikan besar di kolam kecil karena itu bisa buat saya jadi lupa diri dan merasa sudah hebat, padahal masih ada langit di atas langit. Begitu pula sama halnya dengan apa yang sedang dialami adik saya, tapi perbedaannya adalah adik saya sama sekali tidak berani untuk masuk ke sekolah unggulan. Ia lebih suka hidup biasa-biasa saja asalkan ia dapat melakukan hal-hal yang disukainya.

Adik saya itu sangat suka mengotak-atik sesuatu dan hal itu sudah terlihat saat ia masih kecil. Anak itu sering mengotak-atik mobil-mobilannya, membongkarnya, dan menyusunnya kembali dengan susunan yang disukainya. Saat menginjak usia sekolah dasar, ia bahkan dapa

t memperbaiki televisi di rumah kami yang rusak. Oleh karena kebiasaannya itulah, adik saya ingin masuk ke sekolah teknik, walaupun sebenarnya dia sudah diterima di salah satu SMA favorit di kota kelahiran kami itu. Saya ga bermaksud untuk membangga-banggakan adik saya, tetapi saya hanya ingin berbagi cerita tentang usia lima belas tahun yang penuh dengan kebimbangan, belajar untuk membuat sebuah keputusan, dan berani untuk mengambil risiko dari apa yang telah diputuskan itu. Saya benar-benar merasakan dilema saat itu. Semoga di usiamu yang ke lima belas ini, engkau dapat menjadi manusia yang lebih bijak dan dapat menyelesaikan d

ilema-dilema yang ada dalam hidup ini (walaupun sebenarnya dia itu orangnya nyantai banget). Selamat berjuang ya adikku apapun pilih

anmu kakak doakan semoga Allah memberikan pilihan yang terbaik untuk dirimu. A..min.



 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2010 in Cerita kecil

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: